Toleransi Para JIN

 

Akhir-akhir ini banyak terjadi pelecehan terhadap agama islam di negeri yang terkenal bukan lautan tapi kolam susu.

Dimulai dengan Al Quran dinyanyikan dengan lagam jawa di istana presiden, Adzan mengiringi lagu greja dalam acara natalan nasional 2015, sampul Al Quran dibuat untuk bahan trompet tahun baru, dan sekarang kanwil kemenag DKI gelar atraksi tari diatas sajadah shalat.

Tidak usah mengajari Islam dengan toleransi. Dalam urusan aqidah tidak ada kata toleransi. Islam telah lahir dengan toleransi sebelum kalian semua lahir dengan toleransi kalian.

Tak usah membangunkan singa yang sedang tidur jika tidak mempunyai daging yang cukup untuk membuatnya kenyang hingga tidur kembali.

Budaya berbeda dengan agama, sehingga budaya tidak bisa disatukan dengan agama. Islam itu satu. Tidak ada Islam Arab, Islam Nusantara, Islam Timur atau Islam Barat.

Islam Nusantara hanyalah produk orang liberal yang tak laku dengan produk lamanya yang disebut Jaringan Islam Liberal (JIL). Oleh karena itu sekarang Jaringan Islam Liberal (JIL) bermetamorfosis menjadi Jaringan Islam Nusantara (JIN). Isinya hanyalah orang-orang yang gagal pahama dalam memahami agama dan orang yang satu frekuensi untuk menghancurkan islam.

Jika diumpamakan JIL dan JIN ini seperti orang yang sekolah montir tapi bekerja di rumah sakit. Jelas gak nyambung. Urat manusia jelas beda dengan kabel mesin. Tulang manusia jelas gak sama dengan kunci inggeris.

Orang liberal berbondong-bondong sekolah ke barat, setelah beberapa tahun mereka kembali membawa oleh-oleh dari barat. Mereka membuka oleh-oleh tersebut dan menyuarakannya dengan lantang agar semua orang bisa mendengarkannya. Namun ternyata oleh-oleh tersebut adalah barang dari timur bukan dari barat.

Jika orang waras pasti akan menganggap oleh-oleh itu Imitasi, KW atau Made in China. Karena orang barat pasti bawa barang original barat dan orang timur pasti bawa barang original timur. Maka sangat aneh jika orang dari barat ngaku-ngaku bawa barang original timur.

Inilah yang terjadi dengan orang liberal. Mereka belajar dibarat. Namun setelah selesai belajar ngaku jadi ustadz yang faham agama. Saking fahamnya sampai mengkritik Al Quran, mengkritik Hadist Rasulullah dan mengkritik islam itu sendiri. Apa gak gendeng.

Dunia telah tua dan mulai lelah menopang para manusia tak tahu diri. Berawal dari air mani lalu hidup membawa kotoran dan mati jadi bangkai. Maka berbahagialah orang-orang yang selalu tumbuh dalam hidayah Allah. Patuh dan ta'at kepada Quran dan hadist. Selalu mendahulukan agama diatas kepentingan golongan, suku, adat dan budaya.

Semoga bermanfaat.

Oleh :

Setiadi Abdurrahman
Misfalah, 27 Rabiul Awwal 1437 H

Tidak ada komentar:
Write komentar