Berfikir Sesaat Lebih Baik dari Beribadah 60 Tahun

 

Terdapat hadis yang menyatakan,

"Berfikir sesaat lebih baik dari pada beribadah 60 tahun"

Hadis ini disebutkan dalam kitab al-Adzamah dengan sanad: Berkata Abu Syaikh, dari Abdullah bin Muhammad bin Zakariya, dari Utsman bin Abdillah al-Qurasyi, dari Ishaq bin Najih al-Multhi, dari Atha al-Khurasani, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Perawi  yang bernama Ishaq bin Najih dan Utsman bin Abdillah dinilai para ulama sebagai pendusta.

Ibnul Jauzi menilai hadis ini:

Hadis ini tidak benar, sementara dalam sanadnya terdapat 2 perawi pendusta. Status palsu hadis ini disebabkan keberadaan salah satu dari mereka.

[1] Ishaq bin Najih, yang kata Imam Ahmad: “Manusia paling pendusta.” Sementara Yahya bin Main berkomentar: “Terkenal suka berdusta dan memalsukan hadis.” Kata Imam al-Fallas: “Dia memalsukan hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terang-terangan.”

[2] Utsman bin Abdillah, yang kata Ibnu Hibban, “Memalsukan hadis atas nama perawi.” (al-Maudhu’at, 3/144)

Karena itu, para ulama menegaskan bahwa hadis ini palsu. Ali al-Qori ketika menyebutkan hadis ini, beliau mengatakan,

“Bukan hadis.” (al-Mashnu’, hlm. 82)

Berfikir, merenungkan ayat-ayat Allah, dalam rangka semakin mengagungkan Allah, adalah perbuatan yang terpuji. Allah memujinya dalam al-Quran, diantaranya,

“Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran: 191).

Syaikhul Islam mengatakan,

“Merenunngkan penciptaan makhluk baik yang di atas maupun yang di bawah, dalam rangka mengambil pelajaran, diperintahkan dan dianjurkan.” (Majmu’ al-Fatawa, 15/343)

Karena itulah, para sahabat menyukai berfikir. Merenungkan ayat Allah, baik ayat kauniyah (ciptaan Allah) atau ayat Syar’iyah (aturan syariat).

Ayat kauniyah menunjukkan betapa sempurna kekuasaan dan kebesaran Allah dalam menciptakan..

Ayat syar’iyah menunjukkan betapa adil dan bijaksananya Allah dalam menetapkan aturan.

Kita akan simak pengakuan para salaf (orang soleh masa silam):

[1] Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,

Berfikir sesaat lebih baik dari pada qiyamullail (al-Adzamah, 1/297).

Ibnu Abbas juga mengatakan,

“Belajar beberapa saat di malam hari, lebih aku sukai dari pada menghabiskan seluruh malam untuk shalat.” (Mushannaf Abdurrazaq, 11/253).

[2] Abu Darda radhiyallahu ‘anhu,

“Mengkaji ilmu syariat sesaat lebih baik dari pada shalat malam”

[3] Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

“Saya belajar sesaat lebih saya cintai dari pada saya habiskan waktu malam untuk shalat sampai subuh.”

Abu Hurairah juga mengatakan,

“Saya memahami satu masalah ilmu, baik terkait perintah, ataupun larangan, lebih aku cintai dari pada 70 kali perang di jalan Allah.”

[4] Abu Musa al-Asy’ari:

“Aku duduk belajar bersama Ibnu Mas’ud, itu lebih menenangkan hatiku dari pada beramal satu tahun.”

[5] Hasan al-Bashri :

“Aku memahami satu masalah ilmu syariah, kemudian aku ajarkan ke muslim yang lain, lebih aku sukai dari pada aku memiliki dunia seisinya yan aku jadikan untuk infak fi sabilillah.”

Allahu a’lam.

Oleh :

Ustadz Ammi Nur Baits

Tidak ada komentar:
Write komentar