Toleransi Bangsa JIN dan JIL

 

Toleransi Bukan Berarti Menggadaikan Prinsip Agama. Toleransi dianjurkan, berbuat baik disyari’atkan, tolong menolong menjadi suatu kepastian walaupun anda bersebrangan agama dengan tetangga. Namun itu semua bukan berarti islam membenarkan anda untuk menggadaikan idiologi dan prinsip agama anda. Islam tidak pernah mengizinkan kepada anda untuk bersikap lembek dalam urusan aqidah dan keimanan:

“Maka mereka menginginkan supaya engkau bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak pula kepadamu.” (QS. Al Qalam : 9)

Al Mujahid berkata: Mereka mendambakan jikalau engkau sedikit melunak (mendekat) kepada tuhan-tuhan mereka, dan meninggalkan sebagian dari kebenaran yang ada padamu.”

Inilah prinsip agama Islam yang tidak dapat di tawar-tawar, sebagaimana yang tertuang pada firman Allah Ta’ala berikut:

“Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. Al Kafirun; 1-6).

Saya yakin, Anda meyakini dan beriman bahwa satu-satunya agama yang benar dan diterima di sisi Allah ialah agama Islam. Keyakinan ini tertanam kokoh dalam jiwa anda, dan tidak mungkin tergoyahkan oleh apapun.

Kebenaran Islam sebagai satu-satunya agama yang sah harus selalu anda yakini. Kebaikan perilaku dan keluhuran tutur kata, bukan berarti keraguan akan kebenaran agama anda. Persahabatan dan kerja sama, juga bukan berarti keraguan akan kesalahan agama orang lain.

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran; 85).

“Sesungguhnya agama yang diterima di sisi Allah hanyalah agama Islam”. (QS. Ali Imran : 19)

“Demi Dzat Yang jiwaku berada dalam genggamannya. Tiadalah seorangpun dari umat ini, baik Yahudi maupun Nasrani, lalu ia mati, sedangkan ia belum beriman kepada agama yang aku diutus dengannya, melainkan ia menjadi penghuni neraka.” (Riwayat Muslim)

Dengan demikian, bila anda menginginkan toleransi berupa hubungan yang baik, tidak saling melanggar hak dan kepemilikan, maka itu semua telah diajarkan dalam syari’at.

Namun bila yang anda inginkan dari toleransi ialah lunturnya idiologi, iman dan keyakinan, maka sejatinya itu bukan toleransi. Sikap tersebut sejatinya adalah pelecehan harkat dan martabat.

Bila yang anda inginkan dari toleransi ialah merendahkan harga diri dan menerima kehinaan dan penindasan, maka itu sejatinya kemalasan dan indikasi adanya jiwa pengecut lagi penakut.

“Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama, dan mengusir kamu dari negrimu dan membantu orang lain untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang berbuat zalim.” (QS. Al Mumtahanah : 9)

Benarkah setiap agama memiliki kebenaran relatif ?

Para pendakwah paham Jaringan Islam Liberal (JIL) mempropagandakan adanya “kebenaan relatif” pada setiap ajaran dan agama. Anggapan ini sejatinya hanyalah perangkap dan kamuflase yang sedang diperankan oleh para penggiat paham islam liberal. Sejatinya, dibalik slogan ini mereka menyembunyikan kebencian dan permusuhan terhadap Islam dan pembelaan terhadap segala bentuk kesesatan.

Wajar bila setiap paham baru yang menodai kesucian agama Islam, kaum libralis senantiasa berada di barisan terdepan para pembelanya. Namun sebaliknya, bila ada seruan untuk memurnikan ajaran Islam, apalagi menerapkannya, niscaya kaum islam liberal menjadi orang pertama yang menentangnya. Aneh bin ajaib.

Kemudian bila anda hendak menerapkan paham liberal ini, yaitu setiap paham dan agama memiliki kebenaran yang relatif, maka mustahil anda dapat melakukannya. Sebab telah menjadi fitrah setiap manusia untuk memilih yang benar dan bermanfaat serta menjauhi dan memerangi segala yang salah dan merugikan.

Dan bila anda sedikit merenung, niscaya anda sampai pada kesimpulan bahwa doktrin ini bertujuan untuk meruntuhkan bangsa dan negara serta umat Islam secara khusus. Bila doktrin ini diterapkan, maka setiap orang yang memiliki paham tertentu, bebas bergerak dan menjalankan pemahamannya. Dengan demikian, kaum komunis bebas lenggang kangkung, kaum banci akan bebas menjalankan hasratnya. Para penjahat bebas menjalankan kejahatannya, koruptor bebas melakukan korupsinya, dan kaum kanibal bebas menerapkan pemahamannya dst.

Bila demikian, maka pengadilan harus ditutup, sebab setiap orang yang melakukan suatu tindakan, baik itu merugikan orang lain atau menguntungkan pada hakekatnya sedang menjalankan pemahamannya.

Dahulu bangsa Indonesia mengenal suatu aliran yang dikenal dengan “Darmo Gandul”. Darmo gandul mengajarkan slogan : “Istrimu adalah istriku, dan hartamu adalah hartaku”. Mungkinkah kaum liberal menoleransi aliran ini, sehingga mereka membiarkan orang-orang yang menganut paham “Darmo Gandul” menerapkan pahamnya kepada istri dan harta mereka ?

Walau demikian, kaum liberalis tidak istiqomah dalam menerapkan doktrin ini. Mereka hanya menerapkan doktrin ini kepada setiap paham yang menyelisihi Islam. Akan tetapi tatkala mereka berhadapan dengan kaum muslimin atau aqidah Ahlis Sunnah, mereka berubah wajah. Mereka dengan beringas menyerang serta menganggap sesat paham atau Aqidah Ahlis Sunnah yang meyakini bahwa kebenaran hanya dimiliki oleh Islam. Mengapa mereka tidak menerapkan doktrin mereka, dan berkata: sesungguhnya pada pemahaman ini terdapat kebenaran, dan sepantasnya dibiarkan berkembang di masyarakat.

Sebagai salah satu buktinya ialah tulisan koordinator mereka yang bernama Ulil Abshar Abdallah. Ia menganggap bahwa agama Islam yang diajarkan oleh Nabi dan yang diamalkan oleh Ahlus Sunnah hingga saat ini tidak segar lagi dan sudah ketinggalan zaman atau kurang dewasa dll. Oleh karena itu; ia menyeru untuk mengadakan penyegaran.

Renungkan saudaraku! Bukankah ini merupakan sikap menghakimi dan menyalahkan suatu pemahaman?!

Andai kaum liberal benar-benar menerapkan doktrin ini kepada setiap orang, niscaya mereka menerima/toleransi dengan pemahaman Ahlis Sunnah yang menyakini bahwa paham kaum liberal adalah sesat dan layak untuk dimusnahkan dan disingkirkan dari muka bumi. Namun kenyatannya tidak demikian, mereka sangat berang dan mengerahkan segala daya dan upayanya untuk memerangi agama Islam yang murni, yang diyakini oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Fenomena ini membuktikan kepada kita bahwa sejatinya liberal bangkit dan bergerak guna menghancurkan agama Islam dan menumbuh suburkan setiap paham dan aliran yang menyelisihi Islam. Liberalisasi Islam bukan bertujuan menyegarkan pemahaman Islam.

Saudaraku!

Untuk menepis perangkap adanya “kebenaran relatif” pada setiap agama, simaklah beberapa dalil berikut:

“Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata:”Rabb kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)” Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya:”Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua” Maka syaitan membujuk keduanya (untuk makan memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah baginya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Rabb mereka menyeru mereka:”Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu:”Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua”. (QS.Al A’araf 20-22)

Iblis guru besar setiap penyeru kabatilan, tatkala ingin mengoda dan menyesatkan Nabi Adam dan Istrinya Hawwa ‘alaihimas salaam, ia mengemas godaannya tersebut dalam kemasan nasehat, dan saran agar mereka berdua dapat hidup kekal. Tidak cukup hanya dengan mengesankan bahwa bisikannya adalah nasehat agar mereka berdua dapat menjadi malaikat dan kekat di surga. Iblis benar-benar ahli dalam menggunakan tipu muslihat, ia menguatkan godaannya ini dengan sumpah palsu.

Karena begitu lembut dan halus tipu daya Ibllis, sehingga keduanya terperdaya oleh talbis dan tadlis (pengelabuhan Iblis) ini. Tak ayal lagi mereka terjerumus dalam kesalahan besar, yaitu melanggar larangan Allah Ta’ala dengan memakan buah yang telah dilarang untuk mereka makan.

Demikianlah ajaran Iblis dan demikianlah metode para penyeru kebatilan di setiap zaman dan tempat. Mereka mengemas kebatilan dengan kata-kata indah, slogan-slogan menggiurkan, dan iming-iming manis.

Fenomena ini bahkan telah menjadi sunnatullah pada makhluqnya, agar terbukti siapa dari mereka yang benar-benar beriman dan ta’at dan siapa dari mereka yang hanya menuruti setiap bisikan syahwat, nafsu dan akalnya. Rasulullah pernah menceritakan fenomena ini dalam sabdanya berikut ini:

“Dari sahabat Abu Hurairah , ia menuturkan dari Rasulullah bersabda: “Tatkala Allah menciptakan Surga dan Neraka, Ia mengutus Malaikat Jibril untuk menuju ke Surga, kemudia Ia berfirman: Lihatlah Surga, dan apa yang telah Aku persipakan di dalamnya untuk penghuninya. Maka Malaikat Jibril mendatangi Surga, dan melihatnya dan apa (kenikmatan) yang telah Allah persiapkan di dalamnya untuk para penghuninya. Kemudian Malaikat Jibril kembali kepada Allah, dan berkata: Sungguh demi Keperkasaan-Mu, tidaklah ada seseorang yang mendengar tentangnya, kecuali ia akan memasukinya. Maka Allah memerintahkan agar Surga diliputi dengan kesusahan. Kemudian Allah befirman kepada Malaikat Jibril: kembalilah engkau ke sana, dan lihatlah apa yang telah Allah persiapkan di dalamnya untuk para penghuninya. Maka Malaikat Jibril-pun kembali ke Surga, dan ternyata ia telah diliputi dengan kesusahan. Kemudian Malaikat Jibril kembali ke Allah, lalu ia berkata: Sungguh demi Keperkasaan-Mu, aku amat khawatir tidak akan ada yang masuk ke dalamnya. (Kemudian) Allah berfirman kepadanya: Lihatlah Neraka, dan apa yang telah Aku persipakan di dalamnya untuk penghuninya. Maka Malaikat Jibril mendatangi Neraka, dan melihatnya dan apa (siksa) yang telah Allah persiapkan di dalamnya untuk para penghuninya, ternyata Neraka dalam keadaan saling tumpang tindih, Kemudian Malaikat Jibril kembali kepada Allah, dan berkata: Sungguh demi Keperkasaan-Mu, tidaklah ada seseorang yang mendengar tentangnya, kemudian ia akan memasukinya. Maka Allah memerintahkan agar Neraka diliputi dengan syahwat (kesenangan). Kemudian Allah befirman kepada Malaikat Jibril: kembalilah engkau ke sana, Maka Malaikat Jibril-pun kembali ke Neraka. Kemudian Malaikat Jibril kembali ke Allah, lalu ia berkata: Sungguh demi Keperkasaan-Mu, aku amat khawatir tidak akan ada yang takut darinya kecuali ia akan masuk ke dalamnya. (riwayat Ahmad, Abu Dawud, At Tirmizy, An Nasa’i ).

Ngaku Sama Tapi Tak Sudi Berganti Agama.

Ada satu hal yang mengherankan dalam kehidupan para penggiat paham islam liberal. Mereka mengaku bahwa seluruh agama sama, yaitu sama-sama menuju kepada keselamatan dengan berserah diri. Bahkan tidak canggung-canggung, sebagian tokoh islam liberal mengklaim bahwa agama lain lebih dewasa ketimbang agama Islam.

Ulil Absar Abdallah berkata : “Jadi, Islam bukan yang paling benar. Pemahaman serupa terjadi di kristen selama berabad-abad. Tidak ada jalan keselamatan di luar gereja. Baru pada 1965 masehi, Gereja katolik di Vatikan merevisi paham ini. Sedangkan Islam yang baru berusia 1.423 tahun dari hijrah nabi, belum memiliki kedewasaan yang sama seperti katolik.” (Islam Liberal & Fundamental hal 127) .

Walau demikian, suatu hal yang sangat aneh telah terjadi pada para penganut paham islam liberal. Mengaku bahwa Kristen dan lainnya lebih dewasa, namun mereka tidak sudi berpindah agama.

Fakta ini menurut hemat saya hanya memiliki dua penafsiran:

1- Klaim bahwa selain Islam lebih dewasa, tidak benar adanya, alias paham liberal adalah salah. Mereka enggan berpindah ke agama yang menurut mereka lebih dewasa, karena bila berpindah agama, berakibat mereka tidak lagi dapat memainkan peranannya dalam tubuh umat Islam, sebagaimana yang dinginkan oleh “tuan-tuan” mereka.

2- Klaim ini benar, sehingga para penganut Islam Liberal tetap mempertahankan kesalahan, dan kesesatan. Dengan demikian, mereka layak menyandang gelar “penyesat umat manusia.”

Oleh :

Ust. Muhammad Arifin Badri

Tidak ada komentar:
Write komentar