Posisi Wanita yang Menentukan Kebahagiaan dan Kesengsaraan

 


Menyamakan wanita dengan lelaki, jelas kedzaliman. Karena dua makhluk ini memang Allah ciptakan berbeda. Allah menegaskan,

“Laki-laki tidak sama seperti wanita.” (QS. Ali Imran: 36).

Di sana ada banyak kelebihan yang Allah berikan kepada lelaki, yang tidak dimiliki oleh wanita. Baik dari sisi fisik maupun non fisik.

Akan tetapi, jangan lupa, pada beberapa keadaan, posisi wanita sangat menentukan kebahagiaan dan kesengsaraan hidup dirinya atau orang lain. Berikut diantaranya,

Pertama, sebelum menikah, wanita adalah palang pintu surga bagi orang tuanya.

Hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Siapa yang menanggung nafkah dua anak perempuan sampai baligh, maka pada hari kiamat, antara saya dan dia seperti ini. Beliau menggabungkan jari-jarinya.” (Muslim 2631, dan Ibnu Abi Syaibah 25439).

Dalam riwayat lain,

Dari Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Siapa yang memiliki 3 anak perempuan, lalu dia bersabar, memberinya makan, minum, dan pakaian dari hasil usahanya, maka semuanya akan menjadi tameng dari neraka pada hari kiamat.” (HR. Ahmad 17403, Ibnu Majah 3669, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Kedua, setelah menikah, suami menjadi palang pintu surga bagi wanita

Dalam hadis dari Abdurrahman bin Aur radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Apabila wanita shalat 5 waktu, puasa di bulan ramadhan, menjaga kehormatannya, dan mentaati suaminya, maka disampaikan kepadanya: Silahkan masuk surga dari pintu manapun yang kamu inginkan.” (HR. Ahmad 1683 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth)

Lebih tegas lagi disebutkan dalam hadis dari Hushoin bin Mihron, bahwa bibinya mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyampaikan masalahnya. Selesai urusannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Apakah engkau memiliki suami?”

Si bibi menjawab: “Ya”.

Nabi bertanya lagi, “Bagaimana kedekatanmu dengannya?”

Si bibi menjawab, “Aku berusaha keras untuk taat kepadanya, kecuali untuk pekerjaan yang tidak mampu aku lakukan.”

Beliaupun bersabda:

“Lihatlah bagaimana kedudukanmu di sisinya. Karena sesungguhnya suamimu itu pintu surgamu dan nerakamu.” (HR. Ahmad 19003, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth)

Ketiga, setelah memiliki anak, wanita adalah pintu surga bagi anaknya

Dari Jahimah as-Salami radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Ya Rasulullah, saya ingin ikut berjihad. Saya datang untuk meminta penndapat kepada Anda.” Tanya Jahimah.

“Apakah kamu punya ibu?” tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Ya, masih ada.” Jawab Jahimah.

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

Selalu dampingi ibumu, karena surga di bawah kaki ibumu. (HR. Nasai 3117, Baihaqi dalam Syuabul Iman 7833 dan dishahihkan al-Albani).

Karena itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar kebaktian anak kepada ibunya lebih besar dari pada kebaktiannya kepada ayahnya.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan, Ada orang yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya,

“Siapa manusia yang paling berhak untuk saya sikapi dengan baik?” tanya sahabat,

“Ibumu.” Jawab Nabi.

“Lalu siapa lagi?” tanya sahabat.

“Ibumu.” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Lalu siapa lagi?” tanya sahabat.

“Ibumu.” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Lalu siapa lagi?” tanya sahabat.

“Lalu ayahmu.” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

(HR. Bukhari 5626 & Muslim 6664).

Keempat, karena kecantikannya, wanita sangat menarik pandangan kaum lelaki. Karena itu, dengan daya tariknya, wanita bisa menjadi sumber dosa bagi lelaki.

Dalam hadis dari Usamah Bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Aku tidak meninggalkan satu godaan pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita.” (HR. Bukhari 5096 dan Muslim 2740).

Untuk itulah, Allah perintahkan kepada para wanita agar lebih banyak berdiam di rumah dan tidak suka keluar rumah. Rumah adalah hijab yang paling syar’i bagi waita. Allah berfirman,

“Menetaplah di rumah kalian dan jangan tabarruj seperti tabarrujnya orang jahiliyah.” (QS. al-Ahzab: 33).

Allah gandengkan perintah untuk menetap di rumah dengan larangan tabarruj. Karena umumnya, ketika wanita mulai senang keluar rumah maka dia akan melakukan tabarruj.

Itu artinya, ciri wanita solihah di sisi Allah, bukan mereka yang aktif keluar rumah, tapi mereka yang lebih aktif di dalam rumah.

Kelima, karena kedekatannnya dengan anak, ibu adalah madrasah bagi putra putrinya.

Merekalah akan membentuk generasi. Para ulama menyebutkan,

“Ibu adalah pencetak generasi.”

Karena dia memiliki peran terbesar dalam mendidik anak. Simaklah, di sana ada Ibunda Imam as-Syafii. Beliau menuturkan sendiri tentang kondisi ibunya yang miskin,

“Aku tumbuh sebagai seorang yatim di bawah asuhan ibuku, dan tidak ada harta pada beliau yang bisa diberikan kepada guruku (untuk upah mengajar). Dan ketika itu guruku merasa cukup dengan hanya aku menggantikannya apabila ia pergi. (sebagai ganti upah ngajar).”

Beliau juga mengatakan: “Aku tidak memiliki harta. Dan aku menuntut ilmu ketika masih muda.”

Setelah tinggal beberapa lama untuk membesarkan Syafi’i kecil di daerah Ghazah, ‘Asqalan, Yaman, ibunda al-Imam asy-Syafi’i membawanya ke negeri Hijaz. Ibunda asy-Syafi’i memasukkan Syafi’i kecil ke dalam kaumnya, yaitu kabilah al-Azdi, karena ibunda Syafi’i keturunan kabilah al-Azdi. Dan mulailah Syafi’i kecil menghafal al-Qur’an hingga berhasil menghafal seluruh al-Qur’an pada usia tujuh tahun.

Di sana ada ibunda Imam Ahmad, yang ayahnya meningga ketika Ahmad masih kecil. Imam Ahmad bercerita, “Ibu-ku yang menuntun diriku hingga aku hafal al Qur’an ketika masih berusia 10 tahun. Dia selalu membangunkan aku jauh lebih awal sebelum waktu shalat subuh tiba, memanaskan air untukku karena cuaca di Baghdad sangat dingin, lalu memakaikan baju dan kami pun menunaikan shalat tahajud semampu kami.”

Usai menunaikan shalat malam, sang ibu pergi ke masjid dengan mengenakan cadar untuk menunaikan shalat shubuh bersama Ahmad semenjak beliau berusia 10 tahun. Sejak pagi hingga tengah hari, Imam Ahmad terus diajari ilmu pengetahuan oleh sang ibundanya.

Ibunda Ahmad pernah berpesan, “Anakku, pergilah untuk menuntut ilmu Hadis karena hal itu adalah salah satu bentuk hijrah di jalan Allah!”

Sang ibu mengemas seluruh keperluan sang anak dalam perjalanan, kemudian berkata, “Sesungguhnya Allah jika dititipi sesuatu, Dia akan selalu menjaga titipan tersebut. Jadi, aku titipkan dirimu kepada Allah yang tidak akan membiarkan titipannya terlantar begitu saja.’

Sejak itulah, Imam Ahmad pergi dari sisi sang ibunda tercinta menuju kota Madinah, Makkah dan Shan’a’. Akhirnya, beliau kembali dengan menyandang gelar Sang Imam.

Sekalipun wanita gerakannya lebih terbatas, namun mereka menentukan kualitas generasi penerus umat.

Allahu a’lam.

Oleh :

Ustadz Ammi Nur Baits

Tidak ada komentar:
Write komentar