Pilih Kasih Dalam Penegakan Hukum Merupakan Faktor Kehancuran Negara

 

Bagi seorang muslim, hukum yang paling adil adalah hukum Allah yang Maha penyayang  dan bijaksana. Tidak ada hukum yang lebih baik dan lebih adil daripada hukum Allah. Firman Allah ta'ala :

“Dan (hukum) siapakah yang lebih daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Maidah: 50)

Seorang muslim juga yakin bahwa penerapan hukum Allah akan membawa kepada kebaikan bagi individu, masyarakat dan negara. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Suatu hukum yang ditegakkan di bumi lebih baik baginya daripada diberi hujan selama empat puluh hari.” (HR. Nasai 4904, Ibnu Majah 2538 dan dishahihkan al-Albani)

Telah bercerita kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah bercerita kepada kami Laits dari Ibnu Syihab dari 'Urwah dari 'Aisyah radliallahu 'anhu bahwa orang-orang Quraisy sedang menghadapi persoalan yang mengelisahkan, yaitu tentang seorang wanita suku Al Makhzumiy yang mencuri lalu mereka berkata; "Siapa yang mau merundingkan masalah ini kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam?". Sebagian mereka berkata; "Tidak ada yang berani menghadap beliau kecuali Usamah bin Zaid, orang kesayangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Usamah pun menyampaikan masalah tersebut lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Apakah kamu meminta keringanan atas pelanggaran terhadap aturan Allah?". Kemudian beliau berdiri menyampaikan khuthbah lalu bersabda: "Orang-orang sebelum kalian menjadi binasa karena apabila ada orang dari kalangan terhormat (pejabat, penguasa, elit masyarakat) mereka mencuri, mereka membiarkannya dan apabila ada orang dari kalangan rendah (masyarakat rendahan, rakyat biasa) mereka mencuri mereka menegakkan sanksi hukuman atasnya. Demi Allah, sendainya Fathimah binti Muhamamd mencuri, pasti aku potong tangannya". (HR. Bukhari)

Hadits ini menyimpan beberapa pelajaran berharga sekali, terutama bagi mereka yang mendapatakan amanat kepemimpinan di pundak mereka. Sesungguhnya kabilah dari suku Quraisy  yang paling mulia ada dua macam yaitu Kabilah Bani Makhzum dan kabilah Bani Abdu Manaf. Nah, sekalipun wanita tersebut dari kabilah yang ternama dan tersohor, ditambah lagi oleh lobi kekasih rasulullah. Semua itu tidak menjadikan Nabi lemah dari menegakkan hukum Allah, bahkan beliau marah kepada Usamah bahkan beliau menegaskan: “Seandainya Fathimah putri Muhammad mencuri niscaya saya akan potong tangannya”.(As-Siyasah asy-Syar’iyyah, Syaikhul Islam, hlm. 193)

Hukuman bagi pencuri adalah dipotong tangannya apabila telah memenuhi syarat-syaratnya, berdasarkan dalil Al-Qur’an, hadits dan ijma’. Allah berfirman:

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana“. (QS. Al-Maidah: 38)

Adapun dalil hadits maka banyak sekali, di antaranya adalah hadits pembahasan diatas. Sedangkan ijma’ maka para fuqoha’ telah menukil ijma’ tentang wajibnya memotong tangan pencuri. (Marotibul Ijma’ hlm. 135 oleh Ibnu Hazm)

Hikmah dari potong tangan ini adalah untuk melemahkan alat yang dijadikan untuk melakukan kriminal, sebab tangan bagi pencuri adalah ibarat sayap bagi burung, maka memotong tangan pencuri dapat meruntuhkan sayapnya dan memudahkan penangkapannya bila dia mengulang mencuri lagi. Jadi, hukuman ini adalah untuk menjaga keamanan dan harta manusia. (Ahkamu Sariqoh fi Syari’ah wal Qonun, hlm. 233)

Kecintaan Nabi kepada Usamah tidak menjadikan beliau untuk menerima lobinya, karena ini bersangkutan dengan hukum hak Allah yang tidak bisa dibatalkan oleh lobi seorang, padahal biasanya dalam permasalahan yang tidak berkaiatan dengan hukum Allah, Nabi selalu menerima lobi sahabatnya sekalipun mungkin lebih rendah dari Usamah.

Seorang yang biasa terkadang dapat mengungguli kedudukan orang yang kaya. Perhatikanlah Usamah bin Zaid, beliau adalah budak, sebab ayahnya Zaid bin Haritsah adalah budak yang diberikan Khodijah kepada Nabi. Namun sekalipun demikian, beliau memiliki kedudukan yang begitu tinggi dalam hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hal ini merupakan peringatan bagi orang yang melobi untuk membatalkan hukum Allah, sebab Nabi memberikan peringatan kepada Usamah yang telah melakukan hal itu. Tidak cukup hanya ditolak lobinya, bahkan lebih dari itu, hendaknya dia diberi peringatan agar tidak mengulagi perbuataannya lagi di waktu mendatang.

Oleh karena itu lihatlah ketajaman Khalifah Umar bin Khothob, beliau apabila melarang manusia dari sesuatu maka beliau mengumpulkan keluarganya seraya mengatakan kepada mereka: “Saya telah melarang manusia dari begini dan begitu, dan manusia sekarang akan melihat kepada tingkah kalian layaknya burung melihat kepada daging. Maka siapapun seorang di antara kalian yang melanggarnya maka saya akan lipatkan hukumannya.”(Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushonnaf, 6/199).

Kenapa Umar melipatkan hukuman bagi mereka? Bukankah seharusnya sama saja hukumannya? Ya, memang asal hukumnya sama tetapi Umar melipatkan agar mereka tidak meremehkan hukum hanya karena kedekatan mereka dengan Umar.

Barangsiapa di kalangan pemerintah melakukan seperti ini yaitu tidak menegakkan hukum kecuali kepada rakyat biasa maka ini adalah faktor kehancuran negara dan bangsanya, sebagaimana Bani Israil hancur karena hal tersebut. Kitapun tidak ada bedanya dengan Bani Israil kalau kita melakukan hal yang sama. Apa yang menimpa bani Israil dikarenakan tidak menerapkan hukum Allah akan menimpa kita juga apabila kita tidak menerapkan hukum Allah.

Lihatlah fakta sekarang, adakah kehinaan yang lebih daripada apa yang dirasakan oleh umat Islam sekarang. Walaupun jumlah mereka milyaran, memiliki kekuatan militer dan persenjataan, namun karena mereka melalaikan agama Allah maka Allah melalaikan mereka.

Nabi memiliki hikmah dan kata-kata yang mendalam dalam ucapan dan perbuatannya, beliau bersumpah padahal tidak diminta bersumpah, bersumpah dengan Fathimah yang juga dari kabilah Quraisy dan wanita yang paling dekat dan paling dicintai oleh Nabi. Sekalipun demikian, Nabi mengatakan: ‘Seandainya Fathimah putri Muhammad mencuri niscaya saya sendiri yang akan memotong tangannya”.

Demikianlah hendaknya hukum Allah ditegakkan, tanpa pilih kasih kepada siapapun orangnya yang melakukan kriminal dan pelanggaran. Semoga Allah memberikan taufiq kepada para pemerintah kita agar meniru apa yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad.

Semoga bermanfaat.

Oleh :

Ustad Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar

Tidak ada komentar:
Write komentar