Penyesalan Penduduk Neraka

 

Penyesalan itu diakhir bukan diawal. Semua orang pasti sepakat dengan rumus dasar ini. Namun sangat sedikit yang mengamalkannya. Al Quran telah menggambarkan penyesalan penduduk neraka ketika berteriak kepada Allah subahanahu wataala supaya dikeluarkan dari neraka lalu dihidupkan kembali ke dunia. Sehingga mereka bisa berbuat kebaikan tidak seperti yang telah mereka kerjakan.

Allah subahanahu wataala berfirman :

Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan".. (QS. Al Fatir : 37)

Namun sayang seribu sayang. Allah subahanahu wataala tidak mengabulkan permintaan mereka karena Allah subahanahu wataala mengetahui sendainya mereka dihidupkan kembali, mereka akan mengerjakan seperti yang telah mereka kerjakan dan melanggar yang telah Allah subahanahu wataala larangkan.

Masih dalam ayat yang sama selanjutnya Allah subahanahu wataala berfirman,

"Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?.." (QS. Al Fatir : 37)

Dalam ayat diatas dikatakan bahwasannya manusia telah diberi masa yang cukup untuk berfikir. Waktu tersebut adalah umur yang mereka jalani. Lalu berapakah umur yang Allah subahanahu wataala berikan untuk manusia ?

Telah menceritakan kepadaku Abdus Salam bin Muthahhar telah menceritakan kepada kami Umar bin Ali dari Ma'an bin Muhammad Al Ghifari dari Sa'id bin Abu Sa'id Al Maqburi dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Allah telah memberi udzur kepada seseorang dengan menangguhkan ajalnya hingga umur enam puluh tahun." Hadits ini juga diperkuat oleh Abu Hazim dan Ibnu 'Ajlan dari Al Maqburi. (HR. Bukhari)

Dari Muhammad ibn al-Musayyab ibn Ishaq. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda, “Usia umatku berkisar antara 60 hingga 70 tahun. Sedikit sekali di antara mereka yang melebihi usia tersebut.” Ibnu Arafah (salah seorang perawi hadist ini) mengomentari, “Aku termasuk salah seorang dari yang sedikit itu.” (Shahih Ibni Hibban. Muhammad meriwayatkannya dari Ibnu ‘Arafah, dari al-Muharibi, dari Muhammad ibn `Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah).

Dari kedua hadits diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa umur manusia yang diberikan Allah subahanahu wataala untuk berfikir dan berbuat baik adalah sekitar 60 tahun. Maka berapa sisa umur yang kita miliki untuk berbuat baik ?

Diantara kita ada yang usianya masih muda belia sekitar kepala satu. Ada juga yang sudah berusia kepala tiga bahkan sampai kepala lima. Untuk mengetahui tinggal berapa tahun lagi kesempatan kita adalah mengurangi 60 tahun dengan jumlah umur yang telah kita jalani.

Walaupun rumus ini tidak absolut benar, karena banyak orang yang meninggal dunia diwaktu muda dan tidak sedikit pula orang yang menghembuskan nafas terakhirnya di usia senja. Namun ini sebagai tolak ukur kita untuk lebih waspada dan memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.

Janganlah kita menjadi orang yang tertipu oleh dunia. Ketika usia muda disibukan dengan bekerja mengejar karir dan mengumpulkan harta. Pergi bekerja diwaktu pagi dan pulang diwaktu malam. Sehingga tidak ada waktu untuk beribadah karena rutinitas kesibukan. Lalu datanglah masa tua ketika tubuh kita tidak lagi sehat seperti waktu muda. Penyakit datang silih berganti menjadikannya semakin malas untuk beribadah.

Ibnu Jauzi rahimahullah berkata, "Terkadang manusia berada dalam kondisi sehat, namun dia tidak memiliki waktu luang karena sibuk dalam aktivitas dunia. Dan terkadang pula seseorang memiliki waktu luang, namun dia dalam keadaan sakit. Apabila tergabung kedua nikmat ini, maka akan datang rasa malas untuk melakukan ketaatan. Itulah manusia yang telah tertipu (terpedaya)."

Ketahuilah bahwasannya neraka itu sangatlah panas. Janganlah kita ragu dengan pedihnya adzab neraka sehingga menyia-nyiakan kesempatan yang masih kita miliki. Cukuplah surat Al Fatir ini menggambarkan penduduk neraka yang berteriak ingin kembali berbuat baik karena tidak tahan dengan adzabnya yang pedih.

Ketahuilah bahwasannya apa pun keadaan kita saat ini, tetaplah untuk selalu bersyukur karena masih diberi kehidupan dan mempunyai kesempatan untuk bertaubat. Kita akan mengetahui berharganya pintu taubat ketika tubuh ini tidak bernafas lagi. Kita akan mengetahui manfaat nya beristigfar setelah ruh ini terlepas dari jasadnya. Kita akan tahu hanya amal shalih yang akan menolong ketika adzab di depan mata.

Maka berbahagialah orang yang menyadari pentingnya berbuat baik dan bertaubat ketika masih hidup. Dan celakalah orang yang menyia-nyiakan hidupnya dengan bermaksiat dan melakukan dosa.

Wallahu A'lam

Oleh :

Setiadi Abdurrahman
Makkah, 27 Shafar 1437 H

Tidak ada komentar:
Write komentar