Hukum Bibi Seperti Ibu

 

Bibi kedudukannya sebagaimana ibu. Yang dimaksud bibi di sini adalah bibi dari ibu. Karena bibi ada 2:

Bibi dari ibu, yang disebut dengan khalah
Bibi dari bapak, yang disebut dengan ‘Ammah

Dari Ali radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Bibi itu kedudukanya seperti ibu. (HR. Abu Daud 2278 dan dishahihkan al-Albani).

Ulama berbeda pendapat mengenai maknanya,

Pertama, yang dimaksud bibi kedudukanya seperti ibu adalah bahwa bibi lebih berhak untuk mengasuh anak kecil yang ditinggal ibunya. Ini keterangan al-Hafidz Ibnu Hajar. (Fathul Bari, 7/506)

Kedua, bahwa bibi lebih berhak untuk mendapatkan hak asuh, kebaktian, penghormatan dari anak, dan yang lainnya, selama tidak diatur secara khusus dalam syariat, seperti warisan.

Ad-Dzahabi menjelaskan hadis ini,

"Artinya, bibi lebih berhak dalam kebaktian, penghormatan, dan hubungan kekerabatan."

InsyaaAllah pendapat kedua ini yang lebih kuat, karena didukung oleh riwayat lain.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa ada seseorang yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Ya Rasulullah, saya melakukan dosa besar, apakah ada kesempatan taubat untukku?” tanya sahabat.

“Apakah kamu punya Ibu?” tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Tidak punya.” Jawab orang ini.

“Kamu punya Bibi?” tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Punya.” Jawab sahabat.

“Baktikan dirimu kepadanya.” Perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

(HR. Turmudzi 1904 dan dishahihkan al-Albani).

Hadis ini menunjukkan bahwa berbakti kepada khalah (bibi dari ibu), memiliki nilai besar dan bisa menjadi kaffarah dosa.

Dalil lain yang menunjukkan kedekatan bibi dengan keponakannya adalah pertanyaan Aisyah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Ya Rasulullah, semua kawanku punya kunyah.”

Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Berkunyah-lah dengan anakmu Abdullah.” (HR. Abu Daud 4972 dan dishahihkan al-Albani)

Maksud Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam putra dari saudarinya, Asma bintu Abu Bakr. Asma memiliki putra namanya Abdullah bin Zubair. Sehingga Aisyah berkunyah, Ummu Abdillah.

Bibi termasuk mahram bagi keponakan. Sehingga boleh untuk salaman, berduaan dengannya, atau membuka wajahnya di depan keponakannya, seperti yang dilakukan antara ibu dengan putranya.

Hanya saja, yang boleh dibuka adalah bagian anggota tubuh yang umumnya dibuka, seperti kepala sampai leher, hasta, dan sebagian betis. Sehingga, bibi tidak boleh mengenakan baju tipis atau transparan, atau membentuk lekuk tubuh.

Urusan warisan, berbeda dengan masalah kedekatan. Dalam masalah warisan, Allah dan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menetapakan aturannnya. Sekalipun bibi kedudukannya sebagaimana ibu dalam hal hak merawat dan kebaktian, namun warisan bibi berbeda dengan warisan ibu.

Allahu a’lam.

Oleh :

Ustadz Ammi Nur Baits

Tidak ada komentar:
Write komentar