Suami Takut Istri

 

"Kalo nanti istrimu tinggi besar, apakah kamu takut sama dia ?"

Itulah ucapan temanku dari Mesir. Muhammad Ibrahim. Dia orangnya humoris namun ahli dalam ilmu faroid dan bikin nasi kabsah. Tak heran jika banyak yang menyukainya. Berbeda dengan kebanyakan orang mesir lainnya yang banyak omong dan bikin ribet. Gerger katir, begitulah orang banggali menyebut orang misri.

Terlintas dibenaku bagaimana jika istriku nanti berbadan tinggi dan besar. Apakah aku takut sama dia atau malah dia takut kepadaku ?

Sebenarnya ini hanya permasalahan sikap. Takut atau sayang adalah implementasi dari sikap yang kita berikan kepadanya. Jika kita baik kepada istri maka istri akan baik kepada kita. Namun jika sebaliknya istri juga akan berbuat demikian kepada kita.

Hampir seluruh suami di dunia ini takiut kepada istrinya. Namun ketahuilah bahwasannya para suami takut kepada istrinya bukan karena suami itu lemah tidak bisa berantem dengan istri. Namu takutnya suami karena dia sayang dan cinta sama istri. Begitulah cara suami memanjakan istrinya dengan mengatakan takut kepada istri. Ketakutan suami hanyalah sebagai cara suami agar suami bisa memberikan yang terbaik untuk istri. Inilah yang disebut the power of love. Seakan kecintaan suami kepada istri telah melumpuhkan kekuatan suami.

Sebenarnya suami sangat senang jika istrinya manja dan istri manapun pasti ingin dimanja suaminya. Namun karena suatu faktor bisa mengakibatkan sikap ini berubah. Pernah suatu ketia saya bertemu dengan seorang wanita paruh baya. Hampir sepuluh tahun dia menikah namun suaminya tidak mau memanjakannya. Setiap dia memasak atau mengerjakan apapun tidak pernah dipuji oleh suaminya. Bahkan terkadang makanan yang ia masak pun tidak disentuh. Saya berfikir pasti ada something wrong dalam rumah tangga dia. Ternyata benar, selama 10 tahun rumah tangganya belum dikaruniai anak. Mungkin ini salah satu faktor yang menyebabkan suami enggan memanjakan istrinya.

Diksempatan lain saya bertemu dengan seorang suami yang sangat sayang sama istrinya. Sehingga kemanapun istrinya pergi selalu diawasi, dikontrol dan diperhatikan. Namun perlakuan suaminya ini membuat gerah sang istri. Sehingga suatu ketika istrinya tidak mengabari karena sibuk pekerjaannya. Dan ketika pulang ke rumah, suaminya marah besar hingga sang istri pun ketakutan. Besoknya sang istri tidak pulang ke rumah suaminya tapi dia pulang ke rumah orang tuanya. Mungkin inilah yang dimaksud dengan over protektif. Dimana kasih sayang membatasi ruang gerak sehingga terjadilah konflik di dalamnya.

Sebenarnya seorang suami dikodratkan lebih kuat dari istri. Sehingga dalam Al Quran dikatakan pria adalah pemimpin bagi wanita. Allah subhanahu wataala berfirman,

“Kaum pria adalah pemimpin bagi kaum wanita…” (An-Nisa: 34)

Berkata Al Imam Ath thabari rahimahullah menafsirkan ayat di atas: “Kaum pria merupakan pemimpin bagi para wanita dalam mendidik dan membimbing mereka untuk melaksanakan kewajiban kepada Allah dan kepada suami-suami mereka. Karena Allah telah melebihkan kaum pria di atas istri-istri mereka dalam hal pemberian mahar dan infak (belanja) dari harta mereka guna mencukupi kebutuhan keluarga. Hal itu merupakan keutamaan Allah tabaraka wa ta`ala kepada kaum pria hingga pantaslah mereka menjadi pemimpin kaum wanita…”.

Kemudian Al Imam Ath Thabari rahimahullahmenukilkan tafsiran Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhumaterhadap ayat di atas: “Pria (suami) merupakan pemimpin wanita (istri) agar wanita itu mentaatinya dalam perkara yang Allah perintahkan dan mentaatinya dengan berbuat baik kepada keluarganya dan menjaga hartanya. Bila si istri enggan untuk taat kepada Allah, boleh bagi suami untuk memukulnya dengan pukulan yang tidak memberi cacat…”.
Ibnu Abbas juga menyatakan pria lebih utama dari wanita dengan nafkah yang diberikannya dan usahanya. (Lihat Tafsir Ath Thabari, 5/57-58)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa‘di rahimahullahberkata setelah membawakan ayat ini dalam tafsir beliau: “Pria memimpin wanita dengan mengharuskan mereka menunaikan hak-hak Allah ta‘ala seperti menjaga apa yang diwajibkan Allah dan mencegah mereka dari kerusakan. Mereka juga memimpin kaum wanita dengan memberi belanja/nafkah, memberi pakaian dan tempat tinggal”. (Taisir Al Karimir Rahman fi Tafsir Al Kalamin Mannan hal. 177)

Karena banyaknya tanggungjawab suami terhadap istri menjadikan suami mempunyai keutamaan daripada istri. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya.”(HR. Tirmidzi, dan dikatakan oleh Syaikh Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan Tirmidzi no. 926: hasan shahih)

Dalam hadist lain Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada selain Allah niscaya akuperintahkan istri untuk sujud kepada suaminya. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang istri dapat menunaikan hak Tuhannya hingga ia menunaikan hak suaminya seluruhnya. Sampai-sampai seandainya suaminya meminta dirinya (mengajaknya bersenggama) sementara dia sedang berada di atas pelana (yang dipasang di atas unta) dia tidak boleh menolaknya”. (HR. Ahmad dalam Musnadnya, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalamShahihul Jami` 5295 dan Irwaul Ghalil 1998)

Merupakan kewajiban seorang istri adalah menuruti perintah suami selama perintah itu tidak bertentangan dengan syariat islam. Sehingga jika istri menolak perintah suami akan mendapatkan dosa. Bahkan istri yang menolak ajakan senggama dari suaminya diancam oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sabda beliau,

“Jika seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu si istri menolak untuk datang maka para malaikat akan melaknatnya sampai pagi”(Shahih, HR. Bukhari no. 5193 dan Muslim no.1436).

Dalam hadist lain Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu si istri menolak ajakan suaminya melainkan yang di langit murka pada istri tersebut sampai suaminya ridha padanya”. (HR. Muslim no. 1436)

Oleh karena itu, salah satu kriteria istri idaman adalah yang taat kepada suaminya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ketika ditanya bagaimana istri yang baik,

“Istri yang menyenangkan ketika dipandang oleh suaminya, taat kepada suaminya ketika diperintah dan ia tidak menyelisihi suaminya dalam perkara yang tidak disukai suaminya baik dalam dirinya maupun harta suaminya. (HR. Ahmad. Dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam As Shahihul Jami` no. 3398, Al Misykat 3272 dan As Shahihah 1838)

Seorang istri tidak diperkenankan puasa sunnah ketika suaminya berada di rumah kecuali setelah mendapat izin darinya, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Tidak boleh seorang istri puasa sunnah sementara suaminya ada di rumah kecuali setelah mendapat izin dari suaminya”(Shahih, HR. Bukhari no. 5192 dan Muslim no. 1026)

Seorang istri diperkenankan keluar rumah untuk shalat di masjid bila telah mendapatkan izin suaminya. Nabishallallahu ‘alaihi wasallam menuntunkan:

“Apabila istri salah seorang dari kalian minta izin ke masjid maka janganlah ia melarangnya”(Shahih, HR. Bukhari no. 5238 dan Muslim no. 442)

Dari beberapa dalil yang telah disebutkan jelaslah bagaimana tingginya kedudukan seorang suami. Semua itu menunjukkan bahwa suamilah yang berhak memimpin keluarganya. Dialah yang pantas sebagai nahkoda bagai sebuah bahtera yang ingin pelayarannya berakhir dengan selamat ke tempat tujuan. Inilah pembagian Allah subhanahu wata’ala yang Maha Adil maka tidak pantas seorang hamba yang mentaati-Nya untuk memprotes ketetapan-Nya. Bukankah Dia Yang Maha Tinggi telah berfirman:

“Dan janganlah kalian iri terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kalian lebih banyak daripada sebagian yang lain. (Karena) bagi kaum pria ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi kaum wanita pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Karena itu mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”(An-Nisa: 32)

Jika chemistry antara suami dan istri telah bersatu makan akan terjadi sebuah harmoni keluarga. Itulah yang disebut keluarga sakinah mawadah warahmah. Maka istilah suami takut istri bukanlah takut secara hakiki tapi takutnya suami kepada istri adalah takut majazi. Sebuah ketakutan yang mengandung makna cinta dan kasih sayang.

Oleh :

Setiadi Abdurrahman
Misfalah, 14 Shafar 1437 H

Tidak ada komentar:
Write komentar