November Rains

 

Hari rabu bulan november ini begitu indah. Tepat setelah shalat asar hujan turun mengguyur Makkah. Orang-orang memanggilku untuk ikut bergabung hujan-hujanan. Huftt.. Terkadang orang arab terlihat lucu ketika turun hujan. Mereka sangat riang gembira menyambut turun hujan. Wajah mereka menengadah ke langit merasakan setiap tetes air hujan. Semakin basah baju mereka terkena hujan. Semakin bangga mereka menunjukan kepada orang-orang yang berteduh dibawah bangunan.

Ya Allah... kebahagian begitu terpancar dari wajah mereka. Aku pun mengganti baju dan langsung bergabung dengan mereka. Wajah mereka semakin senang dengan kehadiranku. Walaupun di Indonesia hampir setiap hari turun hujan, Namun lain rasanya menikmati hujan-hujanan di Makkah. Mungkin karena telah terjadi dua keberkahan dalam satu waktu yang membuatku merasakan sensasi yang berbeda. Kedua berkah itu adalah berkah air hujan yang turun dari langit dan berkah tanah haram Makkah Al Mukarramah.

Dalam Al Quran telah ditegaskan keberkahan tanah Makkah Al Mukarramah. Allah subhanahu wataala berfirman yang artinya,

"Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia." (QS. Al Imran : 96)

Dalam al-Quran juga Allah menyebut hujan sebagai sesuatu yang diberkahi,

"Kami turunkan dari langit air yang berkah (banyak manfaatnya) lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam. (QS. Qaf: 9)

Allah juga menyebut hujan sebagai rahmat, "Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji" (QS. as-Syura: 28)

Karena itulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang soleh masa silam, sangat gembira dengan turunnya hujan. Sehingga mereka mengambil berkah dengan air hujan.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

“Kami pernah kehujanan bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyingkap bajunya, lalu beliau guyurkan badannya dengan hujan. Kamipun bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa anda melakukan demikian?” Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Karena hujan ini baru saja Allah ciptakan.” (HR. Ahmad 12700, Muslim 2120, dan yang lainnya)

Al-Qurthubi mengatakan, Praktek dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini menunjukkan bentuk tabarruk (ngalap berkah) dengan hujan. Dan menjadikannya sebagai obat. Karena Allah menyebut hujan dengan rahmat, mubarok (berkah), dan thahur (alat bersuci). Allah jadikan hujan sebagai sebab kehidupan dan tanda terhindar dari hukuman, yang memberi kesimpulan agar kita menghormati hujan dan tidak menghina hujan. (al-Mufhim lima Asykala min Talkhis Shahih Muslim, 2/546).

Kemudian dalam hadis lain, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara sengaja menghujankan dirinya ketika khutbah di masjid. Anas bin Malik menceritakan, "Kemudian beliau tidak turun dari mimbarnya hingga saya melihat air hujan menetes dari jenggot beliau." (HR. Bukhari 1033)

Ketika membawakan hadis ini, Imam Bukhari memberikan judul bab dalam kitab shahinya,

"Bab orang yang menghujankan diri hingga air menetes di jenggotnya."

Al-Hafidz Ibnu Hajar menilai bahwa tindakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghujankan diri beliau adalah suatu kesengajaan, dan bukan kebetulan. Karena andai beliau tidak sengaja, tentu beliau akan menyelesaikan khutbahnya ketika mendung kemudian berteduh. Namun beliau terus melanjutkan khutbahnya, ketika hujan turun, sampai membasahi jenggot beliau. (Simak Fathul Bari, 2/520).

Demikian pula yang dilakukan oleh para sahabat. Mereka hujan-hujanan dalam rangka ngalap berkah.

Ibnu Abi Syaibah menyebutkan beberapa riwayat dari para sahabat, dan beliau memberikan judul bab,

"Orang yang hujan-hujanan ketika pertama kali turun hujan."

Selanjutnya Ibnu Abi Syaibah menyebutkan beberapa riwayat berikut :

Dari Bunanah, bahwa Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu hujan-hujanan di awal turunnya hujan.

Dari Ibnu Abi Mulaikah bahwa Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma hujan-hujanan, beliau mengeluarkan pakaiannya, hingga pelananya di awal turunnya hujan.

Dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, bahwa apabila beliau melihat hujan, beliau melepas bajunya lalu duduk. Sambil mengatakan, “Baru saja datang dari Arsy.”

(Mushannaf Ibn Abi Syaibah, 8/554).

Ini merupakan salah satu sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sering ditinggalkan, khususnya orang Indonesia. Ketika turun hujan maka orang-orang akan lari berhamburan menepi dan berteduh menghindari air hujan. Padahal jika mereka tahu, ketika turun hujanlah keberkahan turun menyirami bumi.

November kali ini tidak seperti yang dulu. Rasanya tidak berlebih jika meminjam perkataan Guns N Roses dengan sebutan November Rains.

Oleh : 

Setiadi Abdurrahman

Ajyad Mashofi, 5 Shafar 1437 H

Tidak ada komentar:
Write komentar