Apakah Nanah itu Najis ?

 

Nanah adalah cairan berwarna kuning keputihan atau kuning kehijauan yang disebabkan bakteri. Pada umunya, nanah terdiri dari sel darah putih dan bakteri mati yang disebabkan peradangan. (wikipedia). Sederhananya, nanah merupakan turunan dari darah. Sementara terdapat kaidah dalam masalah Fiqh, "Hukum turunan itu sama seperti hukum asalnya."

Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan, Para ulama sepakat bahwa nanah ketika keluar dari badan manusia, hukumya najis. Karena nanah termasuk benda menjijikkan. Allah berfirman, “Dia (Muhammad) mengharamkan yang menjijikkan.”

Sementara tabiat manusia yang masih baik, merasa jijik dengan nanah. Larangan haramnya sesuatu padahal itu bukan karena itu haram, menunjukkan bahwa itu diharamkan karena najis. Karena unsur najis, ada dalam cairan nanah. Karena, kata najis adalah nama untuk menyebut setiap yang menjijikkan. Dan orang yang tabiatnya sehat, menganggap jijik nanah, karena sudah berubah menjadi busuk. Juga karena nanah itu turunan dari darah. Sementara darah itu najis. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 34/128).

Ada juga yang menyatakan bahwa nanah lebih ringan dari pada darah. Sehingga nanah yang sedikit statusnya ma’fu (ditoleransi).

Dalam al-Mughni dinyatakan, Nanah dan segala turunan darah, hukumnya seperti darah. Hanya saja, Imam Ahmad mengatakan, ‘Lebih ringan dari pada darah.’ Diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Hasan al-Bashri bahwa mereka berdua tidak menganggap sama antara nanah dengan darah. (al-Mughni, 1/762)

Ibnul Qoyim menyebutkan keterangan dari Imam Ahmad, Imam Ahmad ditanya, ‘Apakah darah dan nanah menurut anda sama?’

Jawab beliau, “Tidak sama. Darah tidak ada perbedaan pedapat bahwa itu najis. Sementara nanah, masih diperselisihkan ulama.” di kesempatan yang lain, beliau mengatakan, “Nanah, lebih ringan menurutku, dari pada darah.” (Ighatsah al-Lahafan, 1/151).

Sementara itu, Syaikhul Islam berpendapat, nanah tidak najis. Karena tidak ada dalil najisnya nanah. Beliau mengatakan, “Tidak wajib mencuci pakaian dan badan yang terkena nanah. Tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa itu najis.” (al-Ikhtiyarat al-Fiqhiyah, hlm. 26)

Mengingat ulama berbeda pendapat mengenai hukum nanah, maka nanah mendapat hukum lebih ringan dari pada darah. Sehingga nanah yang sedikit, sulit untuk dihindari, tidak dihukumi najis.

Allahu a’lam.

Tidak ada komentar:
Write komentar