Stairway to Heaven

 

Hidup bukanlah paksaan seperti jabriyah.
Hidup juga bukan pilihan seperti qodariyah.
Namun hidup adalah diantara keduanya.
Bisa memilih tapi semua telah ditentukan.

Kita bukan penduduk asli bumi.
Ibu bapak kita diciptakan tinggal di surga.
Dunia hanyalah tempat singgah saja.
Untuk memilih neraka atau surga.

Perahu tak bisa berlayar di padang pasir.
Begitu juga dosa tak bisa menuju surga.
Maka berjalanlah sesuai aturannya.
Bahwa surga didapat dengan ketakwaan dan neraka didapat dengan dosa.

Surga bukan terbuat dari triplek.
Sehingga setiap orang boleh masuk tanpa diuji.
Neraka juga bukan terbuat dari korek api.
Sehingga dengan meniupnya selamat dari kepanasan.

Untuk mendaki gunung kita membawa perbekalan dan stamina yang prima.
Apakah untuk mendapatkan surga hanya dengan berleha-leha tanpa susah payah ?
Ketika melewati jurang kita berpegangan erat dan berjalan penuh perhitungan.
Apakah untuk melewati neraka hanya dengan angan-angan dan harapan ?

Al Quran telah menyuruh selamatkanlah dirimu dan keluargamu dari neraka.
Karena dirimu pun belum tentu selamat masuk surga.
Lalu mengapa banyak orang sibuk mencari kesalahan orang lain dan mentahdzirnya seakan paling benar.
Padahal dirinya sendiri belum tentu terlepas dari kesalahan.

Banyak orang mencari dokter spesialis untuk mengobati tubuhnya.
Namun sedikit orang yang mengobati penyakit dalam hati dengan spesialis ibadah.
Kemarin adalah cerita dan esok adalah harapan sedangkan hari ini adalah kenyataan.
Jangan hidup di hari kemarin dengan meratapi yang telah lalu dan jangan hidup di esok hari dengan mencemaskan masa depan.

Hiduplah hari ini karena kenyataan adalah ketika engkau menjalaninya.
Sibukan hari ini dengan kebaikan karena belum tentu esok masih hidup dan tinggalkan kejelekan pada hari ini karena mungkin saja hari ini hari terakhir.

Mentari pagi itu cerah maka jangan kau redupkan dengan kesedihan.
Malam itu dingin maka jangan kau panaskan dengan permusuhan.
Buruk sangka bagaikan engkau meminum racun dan berharap orang lain mati.

Sedikitpun tidak akan berpengaruh sangkaan kita kepadanya.
Namun pikiran dan perasaan buruk perlahan membunuh diri sendiri.
Semoga bulan malam ini menemaniku dalam mimpi indah.
Bintang yang berhalangan hadir malam ini menjadi penyemangat agar bisa bertemu esok malam.

Makkah, 12 Muharram 1436 H

Tidak ada komentar:
Write komentar