Health and Opportunity

 

"Kesehatan bagai mahkota di kepala orang-orang sehat. Tidak akan terlihat mahkota tersebut kecuali oleh orang sakit."

Hampir sepuluh tahun kata-kata hikmah itu sudah terdengar di telinga ini. Seorang anak jawa tengah dengan lantang mengucapkannya sambil bercanda. Entah karena dia humoris atau memang dia sudah merasakan isi dari hikmah tersebut. Yang jelas sifatnya yang humoris dan telaten telah menjadikan namanya tertulis di absen hadir Universitas Al Azhar, Mesir.

Kita tidak tahu kapan kesehatan akan pergi, namun sebuah kepastian bahwa sakit akan datang. Lelaki terbaik di dunia ini pernah merasakan sakit hanya sekali seumur hidupnya yaitu sebelum beliau wafat. Bukan karena beliau rajin cek up ke dokter spesialis atau selalu makan-makanan bergizi. Namun ketakwaannya kepada yang memberikan kesehatan menjadikan tubuhnya tak mau dihinggapi penyakit.

Manusia seringkali baru merasakan betapa besarnya nikmat Allah setelah nikmat tersebut dicabut dari dirinya. Dr. Muhammad al-Rusyaid mantan menteri pendidikan Saudi Arabia memberikan nasihat beberapa waktu sebelum ajal menjemputnya.

"Ruang isolasi (ICU) dipenuhi dengan fasilitas seperti lemari baju, pakaian-pakaian yang baru, kamar mandi yang bersih dan perawatan yang intensif. Tapi ada dua hal yang tidak didapatkan, kesehatan dan kebebasan.

Diruang isolasi saya seperti dipenjara. Saya pun merasakan kesulitan-kesulitan yang dialami para penghuni sel (penjara). Saya menyadari kebodohan diri ini yang menganggap mereka mudah beradaptasi terhadap situasi dan kondisi. Sungguh, betapa agungnya pejuang-pejuang kebenaran yang sabar menghabiskan waktu lama tinggal dibalik jeruji besi.

Berempatilah kalian terhadap orang-orang yang dipenjara baik mereka bersalah ataupun tidak bersalah, juga doakanlah kebaikan untuk mereka. Yakinlah bahwa terisolasinya mereka dari dunia luar itu "membunuh jiwa". 

Kesendirian menimbulkan waswas luar biasa, membukakan pintu depresi, menyebabkan penyakit fisik dan mental.
Warna putih yang mendominasi rumah sakit ini tidak hanya mengingatkanku akan kain kafan. Warna putih yang membuatku ingat akan noda-noda hitam dalam kehidupanku pada masa lalu. Dan, warna putih yang memotivasi diri untuk membersihkan segala noda hitam yang terpendam di jiwa ini.
Di ruang isolasi ini saya punya banyak kesempatan merenung. Saya hanya mendengar suara muadzin dan panggilan para perawat, suara lainnya tidak ada yang saya dengar. Ya, setiap kita butuh atau harus menggunakan sebagian waktunya untuk menyendiri, untuk merenung dan bertafakur. Cobalah !

Kesehatan bagai mahkota dikepala orang-orang sehat, hanya orang-orang sakit yang bisa melihat mahkota itu. Saya sudah hafal ungkapan ini sejak kecil, tapi baru faham kedalaman maknanya setelah saya dewasa. Untuk mengetahui suatu hakikat, tidak perlu mengalami pengalaman pahit terlebih dahulu.
Ya, setelah dilakukan pencangkokan sumsum tulang belakang dan pengobatan kemoterapi terhadap tubuh ini, selama enam belas hari tanpa asupan makan, maka hilanglah selera makan. Minum pun hanya seseruput dan terpaksa. Sesungguhnya nilai kesehatan itu mahal, seakan saya baru tahu hakekat ini. Siapakah yang mau memberi peringatan kepada orang-orang yang sehat ?

Tidak semua penyakit manusia diketahui sebabnya, seperti penyakitku ini, walau banyak yang diketahui sebabnya. Orang yang pandai adalah orang yang selalu memohon pertolongan kepada Allah agar selalu diberi kesehatan, kemudian ia menghindari penyebab penyakit dan menjaga kesehatan jiwa raganya.

Kangker darah (leukemia), penyakit saya. Ia menjangakiti tubuh ini sejak delapan bulan sebelum diadakan cek up yang teliti. Hampir-hampir sebagian dokter yang berbisnis dengan ilmunya dan kurang amanat hampir menyia-nyiakanku. Bagaimanapun penyakit itu adalah nikmat di satu sisi. Dengan menderita sakit ketergantunganku kepada Allah semakin kuat. Orang-orang yang saya cintai berdatangan menjengukku. Alhamdulillah, dengan merasakan sakit, jiwaku terasa lebih jernih: tenteram.

Bacalah curahan hatiku dengan hikmat, agar kita merasakan bahwa hidup ini dipenuhi dengan kenikmatan. Wahai Rabb, langgengkanlah kenikmatan untuk kami.
Namun ingatlah studimu sewaktu SMA dan di Universitas, semua spesialisasimu bagaikan debu, tiada bermanfaat saat malam pertama di kubur. Yang tersisa hanyalah pelajaran di bangku SD, yaitu pertanyaan "Siapa Rabb mu ? Apa Agamamu ? Siapa Nabi mu ?

Yang bisa menjawab pertanyaan diatas dengan benar hanyalah orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Semoga segala peluang yang Allah berikan kepada kita untuk bertaubat serta beramal shalih dalam sisa umur ini bisa kita manfaatkan sebaik-baiknya. Aminn (percikan hikmah dari kisah tabiin, hal 5)

Ini bukan masalah keinginan. Bukan masalah mau atau tidak mau. Tetapi ini masalah kesempatan yang datang kepada kita. Ketika kita diberi kesempatan menikmati kesehatan namun kesehatan itu disia-siakan dalam berbuat dosa. Akhirnya ketika penyakit hinggap di tubuh, yang ada hanyalah penyesalan yang tak mungkin kembali.

Dr. Salwa al-Udhaidhan berkata, "Ketika kesempatan datang mengetuk pintumu, janganlah terlambat untuk membuka lantas menerimanya, sebelum kesempatan itu berpaling dan mencari orang lain yang pandai melayaninya." (Hina Takbu.. indhad, hal 83)

Untuk meyakinkan rasa susu itu manis, tidak perlu meminumnya satu kontainer. Cukup meneguk satu gelas saja sudah mewakili seluruh rasanya. Lalu apakah harus menunggu usia senja agar mengetahui mahalnya kesehatan dan berharganya kesempatan ? Cukuplah pendahulu kita mengabarkan apa yang telah mereka alami agar kita bisa mengambil pelajaran darinya.

Makkah, 16 Muharram 1437 H

Tidak ada komentar:
Write komentar