Hukum Stem Cell Dalam Islam

 

Pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ada penemuan baru di bidang kedokteran yaitu stemcell sedangkan definisi stemcell itu sendiri adalah sel induk yang dapat berdeferensial atau dapat merubah diri menjadi berbagai sel sesuai dengan lingkungan, bisa berubah-ubah menjadi sel otot, sel endokrin, ephitel, dan lain-lain kemudian berkembang lagi menjadi stemcell.

Stemcell dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti plasenta, tali pusat janin, darah, dan sumsum tulang belakang. Sedangkan menurut sumber lain stemcell yaitu suatu sel yang belum matang atau belum berdeferensiasi (berubah) menjadi sel atau jaringan tertentu. Dalam bahasa indonesia, stemcell disebut sebagai sel punca atau sel induk. Sedangkan dalam bahasa kedokteran, stemcell dapat berupa sel unipoten (hanya dapat berubah menjadi satu jenis sel), multipoten (dapat berubah menjadi beberapa jenis sel), atau totipoten (dapat berubah menjadi jaringan apapun). Dengan kemampuan ini, stemcell dapat menyembuhkan sel-sel tubuh yang rusak atau hilang karena penyakit yang berat dengan cara beregenerasi menjadi organ atau jaringan yang rusak tersebut.

Ada dua kegunaan stemcell yaitu berdasarkan fungsinya dan riset. Fungsi setelah diaktifkannya stemcell dalam tubuh adalah sebagai berikut:

1) Menambah jumlah peredaran darah dan mempercepat mikro sirkulasi darah sehingga bagi pasien yang stroke, tekanan darah tinggi, leukimia, dan cuci darah akan sembuh.

2) Menambah oksigen dalam darah dan sel sehingga dapat mematikan virus dan bakteri.

3) Mempercepat transportasi nutrisi ke seluruh tubuh.

4) Mempercepat pembersihan dalam tubuh manusia sehingga pasien setelah diterapi stemcell akan lancar buang air besar dan air kecil.

5) Mempercepat metabolisme tubuh.

6) Menambah kinerja sel badan.

7) Mempercepat penyembuhan luka dan patah tulang.

8) Meningkatkan kemampuan anti kanker.

Sedangkan peran stemcell dalam riset adalah sebagai berikut:

1) Terapi gen >> sebagai alat pembawa transgen ke dalam tubuh pasien dan selanjutnya dapat dilacak jejaknya apakah stemcell ini berhasil mengekspresikan gen tertentu dalam tubuh pasien.

2) Mengetahui proses biologis yaitu perkembangan organisme dan perkembangan kanker. Melalui stemcell dapat dipelajari perkembangan sel baik sel normal maupun sel kanker.

3) Penemuan dan pengembangan obat baru yaitu untuk mengetahui efek obat terhadap berbagai jaringan.

4) Terapi sel berupa replacement therapy. Oleh karena stemcell dapat hidup di luar organ tubuh manusia misalnya di cawan petri maka dapat dilakukan manipulasi terhadap stemcell itu tanpa mengganggu organ tubuh manusia. Stemcell yang telah dimanipulasi dapat dimasukkan kembali ke dalam organ tubuh untuk menangani penyakit-penyakit tertentu. Salah satu contoh penyakit yang dapat diatasi oleh stemcell adalah penyakit autoimun misalnya pada lupus, artritis reumatoid, dan diabetes tipe 1. Setelah diinduksi oleh growth factor agar hematopoietic stemcel banyak dilepaskan dari sumsum tulang ke darah tepi maka hematopoietic stemcell dikeluarkan dari dalam tubuh untuk dimurnikan dari sel imun matur lalu tubuh diberi agen sitatoksik atau terapi radiasi untuk membunuh sel-sel imun matur yang tidak mengenal self antigen. Setelah itu hema stmcell dimasukkan kembalike tubuh, bersikulasi, dan bermigrasi ke sumsum tulang untuk berdiferensiasi menjadi sel imun matur.

Cara mendapatkan stemcell yaitu sebagai berikut:

1. 1. Cara mendapatkan embryonic stemcells (sel punca embrio) – Mengambil dari cabang bayi (embrio) yang didonorkan orang tuanya. – Mengambil dari embrio yang digugurkan atau keguguran. – Mengambil dari embrio sisa pembuatan bayi tabung. – Mengambil dari embrio yang dibuat secara therapeutic cloning.

1. 2. Cara mengambil adult stemcells (sel punca dewasa) Adult stemcells dapat diambil dari sel atau jaringan tubuh orang dewasa, anak-anak, hewan, dan tali pusat. Beberapa adult stemcell yang sering digunakan dalam penelitian stemcell dan pengobatan adalah haemapoetic stemcells (stemcell darah) yang umumnya diambil dari sumsum tulang belakang. Berbeda dengan negara maju, di Indonesia stemcell masih mulai diteliti dan Indonesia menggunakan sel punca dewasa karena sel punca dewasa tidak memenuhi hambatan dalam bidang etika, sedangkan sel punca embrio  masih banyak perdebatan tentang masalah etika. Tetapi walaupun demikian, stemcell tetap diperdebatkan dalam penggunaannya di Indonesia karena sama-sama diperoleh dari organ-organ manusia. Penerapan stemcell di Indonesia masih menjadi tanda tanya besar karena masih akan terbentur dengan berbagai sistem perundang-undangan di Indonesia. Dibutuhkan adanya kesepakatan dan keseimbangan tujuan dari sudut pandang agama, bioetik, dan riset yang berlaku di Indonesia sehingga keberadaannya benar-benar bisa diterima masyarakat. Sel punca yang umum digunakan di Indonesia dan banyak diteliti di klinik adalah adult stemcells dari tali pusat sedangkan Penggunaan embryonic stemcells untuk saat ini terbatas hanya untuk tujuan penelitian dan belum diperoleh kesepakatan untuk dapat digunakan untuk aplikasi klinik dikaitkan dengan masalah etik. Banyaknya manfaat yang diperoleh dari penggunaan stemcell tidak berarti menjanjikan suatu bentuk penyembuhan yang sempurna karena masih ada bahkan hal yang belum terungkap dan diperlukan penelitian yang mendalam. 

Aplikasi stemcell embrio yang mengagumkan membatasi para klinisi karena dihadapkan dengan masalah etika yang mengharuskannya untuk tujuan penelitian. Perkembangan penggunaan stemcell di Asia yang sangat berkembang saat ini yaitu Cina, India, Malaysia, Thailand, Jepang, Korea, dan Singapura. Sedangkan di Indonesia, perkembangan stemcell baru mau berkembang.

Hukum Embryonic Stemcells (sel punca embrio)

Islam sebagai agama yang berdasarkan pada moral dan etika yang tinggi tentu saja tidak dapat melepaskan diri dari perbedaan pandangan tersebut. Berdasarkan cara pengambilannya jelas bahwa stemcell sangat bertentangan dengan moral dan etika karena untuk mengambil itu harus merusak dan membunuh embrio(jabang bayi) pada stemcell embrio. Oleh karena itu tindakan ini adalah tindakan pembunuhan.  Allah subahanahu wataala berfirman yang artinya,

"Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi." (QS. Al Maidah : 32)

Hukum ini bukanlah mengenai Bani Israil saja, tetapi juga mengenai manusia seluruhnya. Allah memandang bahwa membunuh seseorang itu adalah sebagai membunuh manusia seluruhnya, karena seorang itu adalah anggota masyarakat dan karena membunuh seseorang berarti juga membunuh keturunannya.

Allah subahanahu wataala juga berfirman yang artinya,

Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.(QS. Al Isra :33)

Tindakan pembunuhan embrio disebut abortus. Tindakan abortus dapat dikategorikan sebagai penodaan terhadap kesucian manusia itu sendiri. Diperbolehkan abortus jika benar-benar dalam keadaan darurat. Sesuai dengan kaidah hukum islam bahwa sesuatu yang diperbolehkan karena darurat itu harus diukur dengan kadar kedaruratannya. Batas kedaruratannya disini hanya ada satu yaitu apabila janin dibiarkan akan mengancam kehidupan si ibu karena ibu merupakan pangkal kehidupan janin dan janin sebagai far' (cabang).

Dari sini dapat diketahui bahwa stemcell yang menggunakan stemcell embrio bisa dilakukan apabila ada ibu yang secara darurat melakukan aborsi karena jika tidak aborsi maka dikhawatirkan akan mengancam kehidupan si ibu. Hal ini tidak asal-asalan melakukan aborsi tetapi hal itu memang benar-benar merupakan darurat yang pasti bukan sekedar dugaan dan telah diamati oleh dokter dengan pemeriksaan yang cermat dan tidak gegabah dengan tinjauan dari berbagai aspek yang terkait. Maka dari itu, stemcell embrio dapat dilakukan.
   
Pendapat pemuka agama Islam, Katolik, Kristen, Hindu dan Budha tentang penggunaan sel punca yang diambil dari embrio manusia untuk terapi pengobatan adalah terlarang. Hal itu disampaikan dalam diskusi panel mengenai perkembangan terapi sel punca yang diselenggarakan Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) di Jakarta.
   
Dr.H.A.F. Wibisono, MA dari Muhammadiyah mengatakan, penggunaan sel punca embrionik untuk keperluan apa pun tidak diperbolehkan kecuali saat terapi itu menjadi satu-satunya solusi untuk menyelamatkan nyawa manusia.

"Karena, menurut pemikiran yang berkembang di Muhammadiyah, embrio terbentuk setelah konsepsi, artinya sudah ada kehidupan di sana. Jadi mengambilnya sama dengan melakukan aborsi," katanya.

Ia hanya memberi pengecualian pada sel-sel yang diambil dari sisa embrio hasil proses bayi tabung yang dibuat dari sperma dan sel telur pasangan suami istri.

Seperti Wibisono, maka Prof.Dr.HM.Ridwan Lubis dari Nahdlatul Ulama juga berpendapat terapi sel punca embrionik hanya bisa dilakukan bila sudah tidak ada jalan lain yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan manusia.

"Kalaupun aplikasi terapi sel punca embrionik pada manusia dilakukan, harus dengan sangat hati-hati dengan memperhatikan dampaknya terhadap manusia," katanya serta menambahkan tindakan itu harus dilakukan sesuai tujuan hukum Islam yakni terpeliharanya agama, jiwa, kehormatan, keturunan dan harta manusia.
   
Meski pihaknya juga belum melakukan kajian khusus, Pendeta Robert P Borong dari Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) menjelaskan, agama Kristen juga menganggap embrio, baik yang dihasilkan di dalam rahim maupun di luar, sebagai kehidupan baru yang harus dihargai dan dihormati.
   
"Apalagi pada dasarnya, hasil karya manusia selalu tidak sempurna, sehingga pasti ekses yang mesti diperhitungkan," katanya serta menambahkan tapi pihaknya masih mentoleransi penggunaan sel embrio sisa hasil proses bayi tabung.
   
Pastor Dr.Br.Agung Prihartana, MSF dari Konferensi Waligereja Indonesia(KWI)  juga mengatakan bahwa secara tegas gereja melarang pengambilan sel embrio untuk keperluan apa pun.
  
"Yang dihasilkan dari proses fertilisasi, adalah kehidupan baru yang harus dihormati," katanya.Gereja, katanya, juga tidak mentoleransi penggunaan sel embrio sisa proses bayi tabung karena apa pun bentuknya mereka adalah cikal bakal manusia yang mempunya hak untuk hidup.
   
Pernyataan serupa juga dikemukakan oleh Ketut Wilamurti, S.Ag dari Parisada Hindu Dharma Indonesia (PDHI) dan Bhikku Dhammasubho Mahathera dari Konferensi Sangha Agung Indonesia (KASI).
   
"Embrio adalah mahluk hidup.  Sejak bersatunya sel telur dan sperma, ruh Brahman sudah ada didalamnya, tanda-tanda kehidupan ini jelas terlihat. Karena itu, menggunakan sel punca dari embrio sama dengan aborsi, pembunuhan," kata Ketut Wilamurti.
   
Perbuatan menghilangkan kehidupan semacam itu, menurut dia, mengandung unsur "himsakarma" yang bertentangan dengan ajaran "ahimsa."

Namun demikian, ia menjelaskan, ajaran Hindu masih memberikan celah melalui "atmanastuti", hukum terendah dalam ajaran Hindu yang memungkinkan sesuatu bisa dilakukan apabila menurut perhitungan mendesak dibutuhkan untuk menyelamatkan nyawa.
   
Sementara Bhikku Dhammasubho menjelaskan, menurut pandangan agama Budha, penggunaan sel punca embrionik yang diambil dari embrio pada fase blastosit (5-7 hari setelah pembuahan-red)  melanggar sila, atau etika kemoralan karena terjadi unsur pembunuhan di dalamnya.
   
"Embrio sudah mempunyai kesadaran atau gandhaba, sudah dianggap sebagai mahluk hidup yang akan berkembang menjadi organisme.  Bila embrio diambil sebagai sumber sel punca, maka dia tidak akan lahir.  Jadi di sini terjadi penggagalan terbentuknya organisme," katanya.
   
Sementara KH Ali Mustafa Yaqub dari Majelis Ulama Indonesia berpandangan lain. Dalam hal ini,  pihaknya berpendapat terapi sel punca embrionik bisa dilakukan, terutama dalam keadaan kedaruratan keselamatan jiwa seseorang.
   
MUI, katanya, berpendapat terapi sel punca hampir serupa dengan pencangkokan organ sehingga tidak masalah jika dilakukan. MUI pada 13 Juni 1970 juga pernah mengeluarkan fatwa tentang pembolehan pencangkokan kornea mata selama tidak dikomersialkan.
   
Terkait dengan penggunaan embrio manusia, dia menjelaskan, "sebelum berumur lima minggu ruh belum ditiupkan sehingga bisa digunakan untuk terapi pengobatan".
Hukum Adult Stemcells (sel punca dewasa)

Para pemuka agama dari agama Islam, Kristen dan Katolik berpendapat terapi sel punca untuk pengobatan hanya bisa dilakukan dengan menggunakan sel-sel yang diambil dari bagian selain embrio seperti tali pusat, jaringan orang dewasa dan hewan (sel punca xeno).
   
"Untuk sel punca dewasa dan tali pusat tidak ada masalah etik khusus, diperbolehkan," kata Pastur Agung. Namun demikian, pemuka agama Islam dari Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama mempermasalahkan penggunaan sel punca yang diambil dari babi karena Islam mengharamkan umatnya mengonsumsi daging babi.
   
"Hewan bisa, tapi untuk babi perlu penelitian dan pembahasan lebih lanjut untuk memastikan hal itu tidak berdampak buruk terhadap manusia," kata Wibisono.

"Harus dipikirkan dan dibahas lebih dalam dahulu karena babi adalah najis berat.  Perlu diteliti juga, apa dampak penggunaannya terhadap manusia yang memanfaatkannya," kata Prof. Ridwan.

Sementara itu, ajaran agama Hindu, kata Ketut, tidak memperbolehkan penggunaan hewan sebagai sumber sel punca, sel induk yang punya kemampuan membelah diri dan mengalami pematangan menjadi bermacam-macam sel sehingga bisa digunakan untuk memperbaiki jaringan yang rusak.
"Karena di dalamnya ada unsur ’himsakarma’ yang bertentangan dengan ajaran ’ahimsa’," katanya menegaskan.

Dalam ilmu fikih bahwasannya organ tubuh yang diambil dari manusia yang masih hidup dihukumi bangkai. Sedangkan bangkai manusia dihukumi tidak najis.

Syamsuddin Muhammad Al Khottib mengatakan mengenai ayat (yang artinya) “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam“, bentuk pemuliaan pada manusia adalah ia tidak dihukumi najis ketika matinya baik manusia tersebut muslim atau selainnya. (Al Iqna’, 1: 170).

“Orang yang dalam keadaan darurat boleh memakan bangkai manusia jika tidak didapati bangkai lainnya. … Karena manusia ketika hidupnya lebih mulia daripada ketika matinya.” (Mughnil Muhtaj, 4: 413).

Dalam hal ini terserah penggunaannya sebagai obat luar seperti salep atau sebagai obat yang diminum atau dengan injeksi ketika dalam keadaan darurat. Hal ini telah ada keputusan dari Al Majm’a Al Fiqhi Al Islami di bawah Robithoh Al ‘Alam Al Islami dalam dauroh ketigabelas 5/8/1412 H (bertepatan dengan 8 Februari 1992).

Begitu pula dalam keadaan darurat, dibolehkan memindahkan kornea mata dan semacamnya. Sebagaimana terdapat keputusan dalam Majlis Al Fita’ kedua tahun 1404 H. Bahwa  kebutaan atau hilangnya penglihatan dianggap darurat bagi manusia. Menghilangkan darurat semisal ini dengan memindahkan kornea mata dari yang telah mati lalu dipasang pada yang hidup adalah suatu hal yang darurat. Hal ini masuk dalam kaedah yang disepakati oleh para ulama,
“Keadaan darurat membolehkan sesuatu yang terlarang.”
“Keadaan darurat diambil sesuai yang dibutuhkan.”
“Tidak diingkari pengambilan mudhorot (bahaya yang lebih ringan).”
Namun perlu diperhatikan di sini mengenai jual beli atau perdagangan organ tubuh untuk tujuan pengobatan karena yang dijual adalah bagian tubuh manusia. Menjualnya berarti pertanda melecehkannya padahal Allah Ta’ala telah memuliakannya. Sebagai gantinya adalah harus diberi secara cuma-cuma untuk maksud memuliakan manusia. Tujuan lainnya, supaya tidak terjadi perdagangan yang diharamkan.

Wallahu A'lam

Daftar Refrensi :

http://regional.kompas.com/read/2008/07/26/22151682/Sel.Punca.Embrionik.untuk.Pengobatan.Dilarang.Agama
http//www.surya.co.id/v2/?p=6292
http//spesialisbedah.com/stemcellsurgery
http//idionline.org/artikel/335#main.content
Departemen Agama RI. 2002. Islam untuk Disiplin Ilmu Kedokteran dan Kesehatan 1. Jakarta: Departemen Agama RI.
Syamsuri, Istamar ,dkk. 2007. Biologi Untuk SMA Kelas XII semester 2. Jakarta: Erlangga.
TIM Dosen PAI Universitas Brawijaya. 2007. Pendidikan Agama Islam Di Universitas Brawijaya. Malang: Pusat Pembinaan Agama(PPA) Universitas Brawijaya.
TIM Dosen PAI Universitas Negeri Malang. 2009. Aktualisasi Pendidikan Islam: Respon Terhadap Problematika Kontemporer. Surabaya: Hilal Pustaka.
Zuhroni, Nur Riani, dan Nazarudin. 2003. Islam Untuk Disiplin Ilmu Kedokteran dan Kesehatan 2. Jakarta: Departemen Agama RI.
http://rumaysho.com/umum/hukum-ari-ari-plasenta-bayi-untuk-obat-dan-kosmetik-3781

Tidak ada komentar:
Write komentar