Fakta yang Tidak Bisa Dijawab Syiah

 

Jika seorang Jalaludin Rahmat atau tokoh syiah lainnya baik di Indonesia maupun di dunia bisa mencerna fakta-fakta ini. Namun faktanya umat syiah hanya bungkam jika disodorkan kepada mereka pertanyaan-pertanyaan ini, sikap kaum syiah tidak ubahnya seperti kerbau yang dicocok hidungnya, tidak secerdas kancil ketika berhadapan dengan buaya. Mereka tidak bisa menggunakan akalnya atau tidak mau menggunakan akalnya. Padahal mereka pintar jika mengakali ayat dan hadits, namun mereka ternyata dikadalin anak cicit janggawarengnya yahudi sampai-sampai mereka bengong dan bingung mengahadapi kenyataan pahit ini, sebagian kaum syiah telah sadar dan kembali karena mereka menggunakan akalnya yang cerdas hanya dengan membaca dan memikirkan fakta ini. Wahai umat syiah gunakan akalmu  jika kamu memang manusia. Wahai saudaraku ahlussunnah , tanyakan kepada kaum syiah fakta ini sebelum engkau terbius dengan rayuan fulus, khumus dan makhlus halus yakni mut’ah. Jangan sampai firman Allah berikut ini mengancam identitas kemanusiaan mu :

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi” .(Qs. Al-A’raf : 179 )

Fakta yang tidak bisa mereka jawab adalah :

(1). Syiah berkeyakinan bahwa Ali adalah Imam yang maksum, namun kemudian mereka mengakui bahwa beliau menikahkan anaknya Umm Kultsum – saudari kandung Hasan dan Husain  – kepada Umar bin Khatab maka 2 konsekwensi pahit bagi Syiah adalah:

Pertama ; Bahwa Ali tidaklah maksum, karena ia telah menikahkan anaknya kepada orang kafir. konsekwensi ini sebetulnya telah meluluhlantakan pokok-pokok ajaran syiah, sekaligus menyatakan bahwa imam-imam syiah yang lain pun tidak ma’shum.

Kedua; Bahwa Umar adalah seorang muslim ( tidak kafir ), karena Ali mengakuinya sebagai besan nya.

Maka, dua konsekwensi ini telah membingungkan.

(2). Syiah mengatakan bahwa Abu Bakar dan Umar radhiyallahu’anhuma kafir, kemudian kita ketahui Ali yang diakui Syiah sebagai Imam yang maksum telah ridho dengan kekhalifahan keduanya dan membai’at keduanya dan tidak pernah keluar menentang keduanya. Maka hal ini menyimpulkan bahwa Ali tidak maksum; karena telah membai’at dan mengakui kekhalifahan dua orang kafir, dua musuh yang zhalim, maka ini kecacatan sifat maksum dan dukungan bagi kezhaliman, tentunya sikap ini tidak mungkin dilakukan orang yang maksum sedikitpun, atau (sebaliknya) sikap Ali  itulah kebenaran sesungguhnya. Karena Abu Bakar dan Umar adalah dua orang mukmin yang jujur dan adil, lalu Syiah menyelisihi Imam mereka dengan mengkafirkan Abu Bakar dan Umar, mencelanya, melaknatnya dan tidak ridho dengan kekhalifahan keduanya. Bingunglah kita dibuatnya :  Apakah kita mengikuti Abu Hasan ? atau mengikuti cara berfikir Syiah yang bermaksiat ?

(3) Sebetulnya Ali telah menikah dengan beberapa wanita sepeninggal Fathimah  radhiyallahu’anha , dan dikarunai beberapa anak, diantaranya :

– Abbas bin Ali bin Abi Thalib,

– Abdullah bin Ali bin Abi Thalib,

– Ja’far bin Ali bin Abi Thalib,

– Utsman bin Ali bin Abi Thalib.

Ibu mereka adalah Ummul Banin binti Hizam bin Darim.

Anak Ali yang lain :

– Ubadillah bin Ali bin Abi Thalib,

– Abu bakar bin Ali bin Abi Thalib,

Ibu mereka adalah Laila binti Mas’ud Ad-Darimiyyah.

Juga :

– Yahya bin Ali bin Abi Thalib,

– Muhammad Al-Ashgar bin Ali bin Abi Thalib,

– Aun bin Ali bin Abi Thalib.

Ibu mereka adalah Asma binti Umais.

Juga :

– Ruqayah binti Ali bin Abi Thalib,

– Umar bin Ali bin Abi Thalib – meninggal ketika ia berusia 35 tahun-.

Ibu mereka adalah Ummu Habib binti Rabi’ah.

Juga :

– Ummul Hasan binti Ali bin Abi Thalib,

– Ramlah Al-Kubra binti Ali bin Abi Thalib.

Ibu mereka adalah Ummu Mas’ud binti Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafy .

Pertanyaannya : Apakah mungkin seorang bapak akan menamai buah hatinya dengan nama orang yang paling ia musuhi ?

Lalu jika ternyata bapak tersebut adalah khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu , bagaimana mungkin ia memberikan nama kepada anak-anaknya dengan nama-nama orang yang kalian jadikan sebagai musuhnya ?

Apakah orang yang berakal akan menamakan buah hatinya dengan nama-nama musuhnya ?

Dan apakah kalian tahu bahwa Ali itu orang Quraisy pertama yang memberikan nama untuk anaknya dengan nama Abu bakar, Umar dan Utsman ?

4) Penulis kitab “ Nahjul Balaghoh “ – kitab rujukan umat syiah – meriwayatkan bahwa Ali menolak untuk dijadikan khalifah dan mengatakan : “ Tinggalkan saya dan carilah selain saya“. Bukti ini menunjukan kesesatan aliran syiah; sebab bagaimana mungkin Ali menolak, padahal kalian mengatakan bahwa Imamah dan kekhalifahannya hukumnya fardhu dari Allah lalu Abu bakar dan Umar memintanya.

5) Syiah mengklaim bahwa Fathimah yang termasuk keluarga Nabi telah dihinakan dan dipatahkan tulang iganya di zaman Abu bakar, ia diresahkan dengan pembakaran rumahnya dan digugurkan janinnya yang mereka namakan dengan Al- Muhsin.

Pertanyaannya adalah : Dimanakah Ali ketika itu ? padahal tragedi itu sangat membakar hati siapa saja meski ia tak punya keberanian, lantas mengapa Ali tidak menuntut haknya padahal ia pemberani yang tangguh ?

Wallahu a'lam.

Tidak ada komentar:
Write komentar