Perbandingan Puasa Orang Syiah dan Ahlu Sunnah

 

Apabila kita membandingkan antara amalan ibadah Syiah dan amalan ibadah yang diajarkan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, kita akan mendapati banyak perbedaan. Demikian pula akhlak dan muamalah antara Syiah dengan yang diajarkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Kali ini kita akan membahas sedikit perbandingan puasa orang syiah dan ahlu sunnah.

Pertama, wajib berbuka ketika musafir
Bagi Syiah, orang yang melakukan musafir, puasanya batal. Artinya, dia wajib berbuka. Lebih ajaib lagi, hanya dengan melintasi jambatan yang memisahkan dua kawasan sudah dianggap musafir dan wajib berbuka.

Kesaksian Dr. Thaha Ad-Dailami dalam buku beliau Siyahah fi 'Alam Tasyayyu' (Perjalanan di Negeri Syiah), menurut beliau, "Orang Syiah terlalu menganggap mudah dalam memberikan keuzuran untuk berbuka. Mereka mewajibkan berbuka untuk setiap musafir dengan jarak paling dekat. Sebagai contoh, ada pelajar yang hendak menjalani ujian. Tokoh syiah mereka memfatwakan agar pelajar ini melakukan musafir setiap hari ke daerah yang berhampiran, jarak perjalanan pulang pergi dijumlahkan menjadi jarak untuk mengelar musafir. Kemudian dia boleh tidak puasa. "
Yang lebih menyedihkan, mereka tidak memastikan apakah keuzuran itu harus diqadha ataukah gugur kewajiban.

Sementara Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah mewajibkan orang yang musafir untuk berbuka puasa. Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu pernah ditanya, tentang hukum puasa Ramadan ketika musafir. Jawab Anas: "Kami pernah musafir bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika Ramadan, orang yang puasa tidak mencela yang tidak puasa dan yang tidak puasa juga tidak mencela yang puasa," (HR. Muslim 1118).

Dalam riwayat lain, Anas mengatakan, "Kami pernah melakukan perjalanan bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Ada diantara kami yang puasa dan ada yang tidak puasa. "(HR. Muslim 1119).
Kedua, berbuka setelah awan merah menghilang
Salah satu kebiasaan Syiah adalah berbuka setelah betul-betul masuk waktu malam. Di saat awan merah di ufuk  telah menghilang dan bintang mulai terbit.

Dalam kitab Wasail As-Syi’ah karya Muhammad bin Al-Hasan Al-Hur Al-Amili, dinyatakan,
Bab: waktu berbuka adalah sampai hilangnya mega merah di ufuk timur, dan tidak boleh sebelumnya.

Di bawah judul bab ini, selanjutnya dia membawakan beberapa riwayat dusta atas nama Ahlul Bait, diantaranya:

Dari Zurarah, saya pernah bertanya kepada Abu Ja’far – alaihis salam – tentang waktu berbuka bagi orang yang puasa? Beliau menjawab: ‘Ketika telah terbit 3 bintang.’

Abu Ja’far : cucu Husain bin Ali bin Abi Thalib. Beliau bergelar Al-Baqir. Salah satu ulama ahlus sunah yang dikultuskan Syiah. Dan satu kedustaan, beliau memfatwakan demikian.
Al-Hur Al-Amili memberi komentar,

Ini dipahami bahwa orang yang tidak mengetahui arah timur, sehingga dia tidak tahu hilangnya awan merah kecuali setelah terbit bintang, sebagaimana penjelasan dalam waktu-waktu shalat atau dianjurkan untuk mendahulukan shalat (maghrib) dari pada berbuka. Sehingga setelah itu terbit 3 bintang. Demikian yang dijelaskan ulama mutaakhirin (Syiah). [Wasail As-Syiah, hlm. 124 – 125]
Keterangan ini yang selanjutnya dipraktekkan masyarakat penganut agama Syiah di masa ini. Termasuk komunitas Syiah di indonesia. Sebagaimana pengakuan beberapa orang yang pernah mengikuti kegiatan buka bersama yang diadakan kelompok Syiah indonesia.

Jika kita perhatikan, apa yang dipraktekkan oleh Syiah dalam kebiasaan berbuka ini, sama persis sebagaimana kebiasaan orang yahudi dan nasrani. Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Agama Islam akan senantiasa menang, selama masyarakat (Islam) menyegerakan berbuka. Karena orang yahudi dan nasrani mengakhirkan waktu berbuka.” (HR. Ahmad 9810, Abu Daud 2353, Ibn Hibban 3509 dan statusnya hadia hasan).

Dalam riwayat lain, itu disebabkan orang yahudi suka mengakhirkan waktu maghrib sampai terbit bintang. Karena itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang sengaja menunda shalat maghrib hingga terbit bintang,

“Umatku akan senantiasa berada di atas fitrah, selama tidak menunda waktu maghrib sampai bintang-bintang mulai terbit.” (HR. Ahmad 15717, Ibn Majah 689, dan statusnya Hasan).

Kebiasaan berbuka puasa orang Syiah ini berbeda dengan apa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menganjurkan kepada umat Islam untuk menyegerahkan berbuka. Segera berbuka sejak bulatan matahari sudah tenggelam, meskipun awan merah masih merekah di ufuk barat.

Dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Umatku akan senantiasa berada di atas sunahku, selama mereka tidak menunggu waktu berbuka dengan terbitnya bintang.”

Sahabat Sahl mengatakan,
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika puasa, beliau pernah menyuruh seseorang. Ketika orang ini mengatakan, ‘Matahari telah tenggelam’ maka beliaupun langsung berbuka.” (HR. Ibn Khuzaimah dalam Shahihnya 3/275, dan sanadnya shahih).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbuka pada saat awan merah di langit masih sangat cerah, hingga sebagian sahabat menyebutnya masih siang.

Dari Abdullah bin Abi Aufa radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,
Kami pernah melakukan perjalanan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan, dan saat itu beliau puasa. Ketika matahari sudah terbenam, beliau memanggil sahabat yang di atas kendaraan, ‘Wahai Fulan, turun, kita buat minuman.’ Sahabat ini menjawab, ‘Wahai Rasulullah, sekarang masih siang.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap menyuruhnya, ‘Turun, kita siapkan minuman.’ Orang inipun turun, kemduian menyiapkan minuman dari sawiq dan dihidangkan untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliaupun meminumnya. (HR. Bukhari 1956 & Muslim 1101).

Dari keterangan sahabat yang disuruh turun: ‘Wahai Rasulullah, sekarang masih siang’ karena dia melihat suasana langit yang masih terang merah setelah bulatan matahari terbenam. Sehingga dia menyangka belum boleh berbuka.

Ketika menjelaskan hadis di atas, Al-Hafidz Ibn Hajar mengatakan,
Hadis ini menunjukkan dianjurkannya menyegerahkan berbuka, dan tidak wajib melanjutkan puasa hingga betul-betul malam. Akan tetapi, jika sudah yakin matahari telah terbenam, halal untuk berbuka. (Fathul Bari, 4/197).

Celaan Imam An-Nawawi untuk Syiah

Dalam karyanya, Syarh Shahih Muslim, Imam An-Nawawi mengatakan,
“Waktu maghrib segara setelah terbenamnya bulatan matahari. Inilah yang disepakati umat Islam. Dikisahkan dari orang Syiah yang berbeda dengan ini, tidak perlu digubris dan itu tidak berdasar.” (Syarh Shahih Muslim, 5/136).

Ketiga, hubungan intim ketika puasa
Yang tidak akan pernah ketinggalan ketika membahas Syiah, masalah ranjang dan kemaluan. Untuk menemukan fatwa unik mereka tentang itu, sangat mudah dan sangat banyak. Dari mulai nikah mut’ah, mengawini binatang, homo, hingga menjadikan istri orang sebagai gundik mut’ah. Jika anda membaca fatwa tokoh-tokoh mereka tentang masalah seks, anda mungkin akan berkesimpulan, sebagian besar penduduk iran adalah anak zina. Saking merebaknya zina legal (mut’ah) di iran.

Tak heran, jika banyak wanita iran korban mut’ah yang bertahan hidup dengan ganti-ganti pasangan mut’ah. Sebuah video dokumenter, bisa anda saksikan di you tube dengan search key :
Iran-Prostitution Behind the Veil atau Mut’ah: The Truth Behind Iran’s Illegal Prostitution Rings
Tidak bisa dibayangkan, ketika Syiah berkembang di indonesia dan mut’ah dilegalkan, bagaimanakah nasib para wanita indonesia ketika itu?.

Tak terkecuali seks ketika Ramadhan. Mereka memberi kelonggaran sangat luas bagi umat Syiah untuk memuaskan dirinya dengan mukadimah hubungan. Boleh secara sengaja melakukan pemanasan, selama tidak sengaja melakukan hubungan.

Dalam kitab Minhaj As-Shalihin, karya Al-Khou’i, dia menjelaskan,
Tidak batal puasa seseorang yang melakukan petting, kemudian secara tidak sengaja zakar masuk ke salah satu lubang (qubul atau dubur). Jika sengaja jimak, namun ragu apakah tadi sudah  masuk semua atau ragu berapa yang sudah masuk dari hasyafah, maka puasanya batal, namun dia tidak wajib membayar kaffarah. (Minhaj As-Shalihin, 1/263).

Subhanallah…
Dimanakan rasa malu mereka terhadap kehormatan bulan Ramadhan. Sementara Allah dan rasul-Nya menyebut orang yang puasa sebagai orang yang meninggalkan syahwat untuk Allah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Allah berfirman, “Puasa itu milik-Ku, Aku sendiri yang akan membalasnya. Orang yang puasa meninggalkan syahwatnya, makan-minumnya karena-Ku.” (HR. Bukhari 7492, Muslim 1151 dan yang lainnya).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melarang orang yang puasa untuk melakukan rafats, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Puasa adalah tameng, karena itu, janganlah dia melakukan rafats dan bertindak bodoh…” (HR. Bukhari 1894, Muslim 1151, dan yang lainnya).

Yang dimaksud rafats adalah melakukan hubungan badan dan mukadimahnya.
Semoga Allah melindungi kita dari kejahatan dan tipu daya Syiah.

Tidak ada komentar:
Write komentar