Advertisement

Hukum Makan Dengan 2 Tangan

 

Terdapat beberapa hadis yang menunjukkan perintah makan atau minum dengan tangan kanan dan larangan menggunakan tangan kiri. Diantaranya,


[1] Hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ ، وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ ، وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ


“Jika kalian makan, maka hendaknya makan dengan tangan kanannya, dan jika minum maka hendaknya minum dengan tangan kanannya, karena setan makan dengan tangan kiri dan minum dengan tangan kiri. (HR. Muslim 2020).


Dalam hadis ini ada perintah makan minum dengan tangan kanan, dan celaan makan minum dengan tangan kiri, karena disebut tradisi setan.


[2] Hadis dari Jabir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


لَا تَأْكُلُوا بِالشِّمَالِ ؛ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِالشِّمَالِ


Janganlah makan dengan tangan kiri, karena setan makan dengan tangan kiri. (HR. Muslim 2019)


Ibnu Abdil Bar mengatakan, "Siapa yang makan dan minum dengan tangan kiri, sementara dia tahu larangannya, dan tidak ada udzur baginya atau sakit yang menghalanginya, berarti dia telah durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya." (al-Istidzkar, 8/341).


Bagaimana Jika Menggunakan 2 Tangan ?


Makan atau minum dengan dua tangan, tidak bisa disebut makan dengan tangan kanan saja sehingga sesuai perintah hadis, dan tidak juga makan dengan tangan kiri saja sehingga menyalahi hadis.


Dan yang mendekati, jika dibutuhkan untuk menggunakan 2 tangan, hukumnya boleh. Bahkan terdapat beberapa hadis, yang mengandung indikasi bolehnya minum dengan menggunakan 2 tangan, meskipun tidak tegas. Kami sebut mengandung indikasi, karena dalam hadis itu disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minum dengan memegang wadah besar (bejana) atau timba dari kulit. Sehingga sangat sulit jika hanya menggunakan satu tangan kanan. Hadis yang kami maksud,


[1] Hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,


Bahwa beliau pernah diberi satu bejana susu oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau diperintahkan untuk membaginya ke ahlus sufah. Setelah semua minum,


فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقَدَحَ فَوَضَعَهُ عَلَى يَدَيْهِ ، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَتَبَسَّمَ فَقَالَ : أَبَا هُرَيْرَةَ ، اشْرَبْ ، فَشَرِبْتُ ، ثُمَّ قَالَ : اشْرَبْ ، فَلَمْ أَزَلْ أَشْرَبُ


Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil wadah itu lalu diletakkan di kedua tangan Abu Hurairah. Beliau bersabda, ‘Wahai Abu Hurairah, minumlah’ lalu aku meminumnya…. (HR. Turmudzi 2477 dan disahihkan al-Albani).


Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu membagi susu itu kepada ahlus sufah dengan wadah yang besar. Sehingga beliau membawanya dengan 2 tangan. Dan di wadah ini pula yang diminum Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.


[2] Keterangan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,


أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَرِبَ مِنْ زَمْزَمَ مِنْ دَلْوٍ مِنْهَا وَهُوَ قَائِمٌ


Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minum zamzam dengan menggunakan ‘dalwun’ dengan berdiri. (HR. Bukhari 1556 & Muslim 2027).


Wadah air yang kecil bisa dipegang dengan satu tangan. Dan biasanya tidak dinamai ‘dalwun’. Disebut dalwun yang ukurannya besar. Dan kemungkinan beliau menggunakan dua tangan.


[3] Dari Abdurrahman bin Abi Umar, dari neneknya, beliau mengatakan,


دَخَلَ عَلَيَّ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي الْبَيْت قِرْبَة مُعَلَّقَة فَشَرِبَ قَائِمًا


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ke rumahku dan di dalam rumah ada qirbah yang tergantung, lalu beliau minum dari qirbah sambil berdiri. (HR. Turmudzi 1892 dan dishahihkan al-Albani)


Wadah yang menggantung tidak mungkin ukurannya kecil, sehingga ketika memegangnya hanya bisa menggunakan 2 tangan.


Dan terdapat beberapa keterangan ulama yang menunjukkan bolehnya minum dengan menggunakan 2 tangan. Diantaranya,


[1] Keterangan an-Nawawi, "Para ulama syafiiyah mengatakan, ‘Jika ada orang minum dengan kedua telapak tangannya, sementara di jarinya ada cincin perak, hukumnya tidak makruh.’ (al-Majmu’, 1/316).


Penjelasan ini terkait larangan makan/minum dengan wadah perak.


[2] Keterangan al-Qurthubi ketika menafsirkan firman Allah,


إِلاَّ مَن اغْتَرَفَ غُرْفةً بِيَدِه


“Kecuali bagi orang yang menciduk dengan satu ghurfah tangannya.”


Lalu al-Qurthubi menyebutkan keterangan sebagian ahli tafsir, Sebagian ahli tafsir mengatakan, ‘Gharfah’ jika menggunakan satu telapak tangan. Sedangkan ‘Ghurfah’ jika menggunakan 2 telapak tangan. (Tafsir al-Qurthubi, 3/253).


Kesimpulan:


Hendaknya kita menggunakan tangan kanan ketika makan dan minum meski yang kita makan lebih dari satu misalnya gorengan dengan lombok.


Dan jika wadahnya besar atau makanannya besar, dan sulit jika hanya menggunakan satu tangan, dibolehkan menggunakan dua tangan.


Allahu a’lam.


Doa Ketika Marah

 

Marah merupakan tabiat manusia. Karena itu, islam tidak melarang manusia untuk marah. Bahkan dalam islam, ada marah yang nilainya ibadah. Itulah marah karena Allah. Marah karena membela syariat Allah. Seperti yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.


Di surat Ali Imran, Allah menyebutkan beberapa kriteria orang yang bertaqwa. Diantara yang Allah sebutkan adalah


وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ


“…dan orang-orang yang menahan amarah dan suka memaafkan orang lain.” (QS. Ali Imran: 134)


Kita memahami bahwa sifat baik yang ada pada diri orang yang bertaqwa sangatlah banyak. Namun sifat baik yang Allah puji dalam ayat ini salah satunya adalah menahan amarah. Ini menunjukkan bahwa sifat ini memilliki nilai istimewa di sisi Allah.


Karena menahan amarah membutuhkan usaha yang sangat kuat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut orang yang mampu menahan amarah sebagai orang kuat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


ليسَ الشديدُ بالصّرعَةِ، إنما الشديدُ الذي يملكُ نفسهُ عند الغضب


“Orang hebat bukanlah orang yang selalu menang dalam pertarungan. Orang hebat adalah orang yang bisa mengendalikan diri ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjanjikan, mereka yang berusaha menahan amarahnya, padahal mampu meluapkan marahnya, akan Allah banggakan di depan seluruh makhluk dan Allah suruh memilih bidadari paling indah yang dia inginkan.


Dari Muadz bin Anas Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,


مَنْ كَظَمَ غَيْظاً وَهُوَ قادرٌ على أنْ يُنفذهُ دعاهُ اللَّهُ سبحانهُ وتعالى على رءوس الخَلائِقِ يَوْمَ القيامةِ حتَّى يُخيرهُ مِنَ الحورِ العين ما شاءَ


“Siapa yang berusaha menahan amarahnya, padahal dia mampu meluapkannya, maka dia akan Allah panggil di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, sampai Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang dia kehendaki. (HR. Abu Daud, Turmudzi, dan dihasankan Al-Albani).


Dari sahabat Sulaiman bin Surd radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan, Suatu hari saya duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu ada dua orang yang saling memaki. Salah satunya telah merah wajahnya dan urat lehernya memuncak. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


إِني لأعلمُ كَلِمَةً لَوْ قالَهَا لذهبَ عنهُ ما يجدُ، لَوْ قالَ: أعوذُ بالله مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجيمِ، ذهب عَنْهُ ما يَجدُ


Sungguh saya mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang. Jika dia membaca ta’awudz: A’-uudzu billahi minas syaithanir rajiim, marahnya akan hilang. (HR. Bukhari dan Muslim)


Doa yang sangat ringkas:


أعوذُ بالله مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجيمِ


"Saya berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk."


Bacaan ini sangat ringkas, dan hampir semua orang telah menghafalnya. Yang menjadi masalah, umumnya orang yang sedang marah sulit untuk mengendalikan dirinya , sehingga biasanya lupa dengan apa yang sudah dia pelajari. Karena itu, kami hanya bisa berpesan, tahan lisan kita ketika marah dan ingat bacaan di atas. Semoga kita dimudahkan oleh Allah  untuk segera sadar ketika marah. Amin


Allahu A'lam


Apakah Kotoran Ayam Tidak Najis ?

Ayam diantara binatang yang sering bercampur dengan kehidupan manusia dalam keseharian. Seringkali kaki terpijak atau tangan tak sengaja menyentuh kotorannya. Mengingat hewan ini sering berbaur dengan kita, sangat perlu kita pelajari hukum kotoran ayam. Najis atau sucikah?


Di sini akan kami paparkan sebuah kaidah yang dapat membantu mengetahui hukum masalah ini dan banyak masalah lainnya yang sejenis, yaitu,


“Kotoran hewan yang halal dimakan adalah suci.”


Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan dalam kitab Al-Mughni (2/492), “Kotoran dan air kencing hewan yang halal dimakan adalah suci.”


Dalam Fatawa Lajnah Da-imah (Komite fatwa kerajaan Saudi Arabia) diterangkan, “Air seni hewan yang halal dimakan hukumnya suci. Kalau dipergunakan pada badan karena suatu kebutuhan, tidaklah mengapa shalat dalam kondisi demikian.” (Fatawa Lajnah Da-imah 5/378).


Artinya, kotoran hewan yang haram dimakan hukumnya najis, mengikuti hukum dagingnya yang haram dimakan. Kesimpulan inilah yang dipegang oleh mazhab Maliki dan Hambali. (Lihat : Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyyah, 7/72).


Ayam diantara hewan yang halal dimakan, sehingga kotorannya tidaklah najis. Demikian juga hewan-hewan lainnya yang halal dimakan, seperti sapi, kambing, bebek dst.


Ada beberapa argumet yang menguatkan kaidah di atas :


Pertama, hukum asal segala sesuatu adalah suci, sampai ada dalil yang menerangkan kenajisannya. Untuk kotoran ayam, dan seluruh hewan yang halal dimakan, tak ada dalil yang menyatakan kenajisannya.


Kedua, hadis dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu’anhu yang terdapat dalam shahih Bukhori dan Muslim. Beliau bercerita,


قَدِمَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَوْمٌ مِنْ عُكْلٍ أَوْ عُرَيْنَةَ فَاجْتَوَوُا الْمَدِينَةَ فَأَمَرَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِلِقَاحٍ وَأَمَرَهُمْ أَنْ يَشْرَبُوا مِنْ أَبْوَالِهَا وَأَلْبَانِهَا


Sejumlah orang dari suku ‘Uql atau Uranah datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun mereka mengalami sakit karena tidak betah di Madinah. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka untuk mendatangi kandang unta, dan menyuruh mereka untuk minum air kencing dan susunya. (HR. Bukhari 1501 & Muslim 4447)


Tidak mungkin Nabi shallallahu ‘alaihi wa salla menyarankan obat dari barang yang najis.


Ketiga, masih keterangan dari sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu,


كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يُصَلِّى قَبْلَ أَنْ يُبْنَى الْمَسْجِدُ فِى مَرَابِضِ الْغَنَمِ


Sebelum masjid dibangun, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di kandang kambing. (HR. Bukhari 234 dan Muslim 1202).


Sangatlah tidak mungkin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di tempat yang najis.


Keempat, Imam Muslim meriwayatkan hadis shahih dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhu, tentang bolehnya shalat di kandang kambing. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda,


صلوا فيها ، فإنها بركة


Shalatlah kalian di kandang kambing, karena padanya ada barokah. (HR. Muslim).


Bolehnya shalat di kandang kambing dan tidak ditemukannya perintah untuk membersihkan kotoran kambing terlebih dahulu sebelum mempergunakan kandang kambing sebagai tempat shalat, meskipun kalaupun dibersihkan tetaplah ada sisa-sisa kotoran yang menempel di pelataran kandang itu, ini menunjukkan bahwa kotoran kambing, serta seluruh hewan yang halal dimakan tidaklah najis.


wallahua’lam bis showab


Mana yang Harus Didahulukan Antra Haji dengan Umrah ?

Haji lebih utama dibandingkan umrah. Baik umrah ketika ramadhan maupun umrah di luar ramadhan. Ada beberapa dalil yang menunjukkan hal itu, diantaranya,


[1] Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا. وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ


Umrah ke umrah berikutnya adalah kaffarah dosa antara keduanya. Dan tidak ada balasan untuk haji mabrur selain surga. (HR. Bukhari 1773 & Muslim 1349).


[2] Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ


Siapa yang haji dan dia tidak melakukan rafats atau tindakan kefasikan, maka dia kembali dalam kondisi seperti bayi yang baru dilahirkan ibunya. (HR. Ahmad 7136, Ibnu Khuzaimah 2514 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)


[3] Ada sahabat bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Amal apakah yang paling afdhal?”

“Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.” jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Selanjutnya amal apa?” tanya sahabat.

“Jihad fi Sabilillah.” jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Selanjutnya amal apa?” tanya sahabat.

“Haji yang mabrur.” Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Bukhari 26 & Muslim 83).


Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan haji sebagai amala paling utama setelah jihad fi sabilillah. Dan yang dimaksud dalam hadis adalah haji sunah. Karena itulah, mayoritas ulama mengatakan, wajib segera melakukan haji bagi yang mampu.


Ibnu Qudamah mengatakan, "Orang yang wajib melakukan haji dan memungkinkan untuk melakukannya maka wajib segera berhaji, dan tidak boleh ditunda. Dan ini merupakan pendapat yang disetujui Abu Hanifah dan Malik." (al-Mughni, 3/212)


Kemudian beliau menyebutkan dalilnya, yaitu firman Allah,


وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ


“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah..” (QS. Ali Imran: 97).


Kemampuan yang dimaksud mencakup kemampuan dana dan kemampuan fisik. Imam Ibnu Utsaimin mengatakan, "Kemampuan itu ada 2: kemampuan fisik dan kemampuan dana. Kemampuan dana menjadi syarat wajib haji. Sementara kemampuan fisik menjadi syarat pelaksanaan." (al-Liqa as-Syahri, 1/391).


Kesimpulannya, bagi yang dananya terbatas, hanya mampu untuk memenuhi salah satu, antara daftar haji atau melaksanakan umrah maka dahulukan haji. Meskipun harus menanti beberapa tahun.


Di Indonesia, biaya untuk mendapatkan porsi haji sebesar 25 juta. Bagi kita yang sudah memiliki tabungan senilai 25jt, segera daftar haji, meskipun usia anda masih muda. Karena ini bagian dari ikhtiyar untuk memenuhi kewajiban segera haji.


Allahu a’lam.


Apakah Arsy Allah di Atas Air ?

 

Keterangan bahwa Arsy Allah berada di atas air dinyatakan di surat Hud, Allah berfirman,


وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا


Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah Arsy-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya… (QS. Hud: 7)


Dalam ayat ini Allah memberitakan bahwa Arsy-Nya berada di atas air sebelum Allah mencinptakan langit dan bumi dan berikut isinya.


Qatadah – ulama tafsir tabi’in – mengatakan, "Allah Ta’ala menyampaikan kepada kalian bagaimana Allah memulai ciptaan-Nya, sebelum Allah menciptakan langit dan bumi." (Tafsir at-Thabari, 15/246)


Dinyatakan dalam hadis dari Imran bin Husain Radhiyallahu ‘anhu, Bahwa ada beberapa penduduk Yaman menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menanyakan sesuatu, “Kami datang kepada anda untuk menanyakan perihal ini..”


Jawaban Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, "Allah telah ada dan sesuatu apapun selain-Nya belum ada. Arsy-Nya berada di atas air. Dia mencatat segala sesuatu dalam ad-Dzikr (al-Lauh al-Mahfudz). Dan Dia menciptakan langit dan bumi. (HR. Bukhari 3191 dan Baihaqi dalam al-Kubro 17702).


Ayat dan hadis di atas menjelaskan tentang kondisi awal penciptaan alam semesta. Dan bahwa Arsy Allah berada di atas air sebelum penciptaan langit dan bumi. Meskipun Arsy Allah senantiasa berada di atas air.


Dalam hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Bisa kalian perhatikan apa yang diberikan Allah sejak Dia menciptakan langit dan bumi, dan apa yang berada di tangan-Nya sama sekali tidak berkurang, dan Arsy-Nya berada di atas air. (HR. Bukhari 6869 dan Muslim 1659)


Kesimpulan bahwa Arsy Allah selalu berada di atas air, diambil dari hadis di atas. Di mana Allah selalu memberi dari sejak penciptaan langit dan bumi hingga sekarang. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan, “Arsy-Nya berada di atas air.”


Al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan, "Makna tekstual hadis yang sebelumnya bahwa Arsy dulu berada di atas air, sebelum penciptaan langit dan bumi. Dan disepakati bahwa Arsy Allah selalu berada di atas air. Dan yang dimaksud dengan air bukan air lautan, namun dia adalah air di bawah Arsy sebagaimana yang Allah kehendaki." (Fathul Bari, 13/410).


Allahu a’lam


Apakah Istri Harus Mentaati Suami dalam Perbedaan Fiqih ?

Allah berfirman dalam al-Quran, "Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada…" (QS. an-Nisa: 34)


At-Thabari menjelaskan, "Ini adalah kelebihan yang diberikan Allah kepada para suami, lebih tinggi dibandingkan para istrinya. Karena itu mereka menjadi pemimpin bagi para wanita, pemutus perkara mereka, untuk urusan wanita yang Allah serahkan kepada para suami. Lalu Allah memuji wanita qanitah, yaitu mereka yang taat kepada Allah dan suaminya."


Kemudian at-Thabari menyebutkan keterangan Ibnu Abbas, "Artinya para lelaki adalah pemimpin, dan kewajiban mereka para wanita adalah mentaati suaminya sesuai yang Allah perintahkan untuk mentaatinya."


Apakah ketaatan ini berlaku mutlak ? Ketaatan kepada makhluk tentu saja tidak berlaku mutlak, namun di sana ada batasan.


Pertama, tidak boleh dalam hal maksiat


Kita tidak boleh mentaati makhluk dalam hal maksiat. Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Tidak ada ketaatan bagi makhluk dalam hal maksiat kepada Allah Ta’ala." (HR. Ahmad 1095 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)


Kedua, tidak sampai membahayakan diri sendiri


Karena mentaati suami adalah untuk kebaikan bersama, termasuk istri. Sehingga tidak boleh menyebabkan adanya madharat dalam ketaatan ini. Allah ajarkan agar kita melaksanakan perintah-Nya sesuai kemampuan kita.


Allah berfirman, “Bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu..” (QS. at-Taghabun: 16)


Jika terjadi perbedaan dalam masalah fiqh, apakah istri juga harus taat kepada suami ?


Al-Izz bin Abdus Salam memberikan kaidah, "Kaidah tentang orang yang wajib ditaati, yang boleh ditaati, dan yang tidak boleh ditaati. Tidak ada ketaatan kepada seorang makhluk kecuali untuk orang yang diizinkan oleh Allah untuk ditaati, seperti para rasul, ulama, pemerintah, qadhi, para wali, orang tua, ibu, pemimpin, atau suami."


Lalu beliau melanjutkan, "Jika seorang imam atau hakim memerintahkan seseorang untuk melakukan sesuatu yang dia yakini halalnya, sementara yang diperintah meyakini haramnya, apakah yang diperintah boleh melakukannya, dengan pertimbangan sesuai pemahaman yang memerintah? Ataukah tidak boleh melakukannya, dengan pertimbangan pemahaman yang diperintah?. Ada perbedaan pendapat dalam hal ini."


Termasuk kasusnya, Jika suami menyuruh istrinya melakukan perbuatan A, sementara mereka berbeda pendapat mengenai hukumnya, apakah istri boleh melakukan perbuatan A padahal dia yakini itu haram, mengingat ini perintah suami? Ataukah dia tidak boleh melakukannya karena menurut pemahaman dia itu dilarang. Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini.


Ibnu Qudamah menyebutkan contohnya, "Jika ada seorang lelaki memiliki 2 istri, yang satu muslimah dan yang satu ahli kitab (dzimmiyah), lalu mereka minum sedikit khamr yang tidak sampai menyebabkan mabuk (karena sedikit), apakah suami boleh melarang keduanya ?"


"Ketika istri ingin minum khamr namun tidak sampai membuat mabuk, maka suami berhak melarang istri muslimah. Karena keduanya (suami dan istri muslimah) sama-sama yakin bahwa itu haram. Namun untuk istri dzimmiyah, suami tidak berhak melarangnya, sebagaimana yang ditegaskan Imam Ahmad. Karena minuman ini dia yakini halal menurut agamanya."


Beliau melanjutkan, "Demikian hukum yang berlaku jika seorang lelaki menikahi muslimah yang meyakini khamr nabiz sedikit itu mubah, apakah suami berhak melarangnya? Ada dua pendapat dalam hal ini. Madzhab Imam as-Syafii dalam masalah ini ada rincian. Dan dinyatakan as-Suyuthi bahwa yang rajih (lebih kuat) adalah pendapat yang membolehkan suami untuk melarangnya. Beliau menyebutkan satu kadiah dalam al-Asybah wa an-Nadzair,


Kaidah ke-35 – hal yang diperselisihkan tidak diingkari, namun yang diingkari adalah hal yang disepakati. dikecualikan dari kaidah ini, jika yang mengingkari memiliki hak, seperti suami yang berhak melarang istrinya minum nabiz, ketika istrinya meyakini itu mubah, atau melarang istrinya yang nasrani, menurut pendapat yang benar. (al-Asybah wa an-Nadzair, hlm. 158)


Berdasarkan keterangan di atas, ada beberapa hal yang perlu kita bedakan,


[1] Sejauh mana istri wajib taat kepada suami dalam masalah perbedaan pendapat fiqh?


[2] Apakah suami boleh memaksa istri untuk mengikuti pendapat fiqhnya?


Disimpulkan oleh Dr. Abdul Aziz as-Syibl – Pengajar di Universitas Imam Muhammad bin Saud, "Jika yang dilarang masalah yang mubah, dimana tidak membahayakan bagi istri ketika mentaati suaminya, maka mentaati suami dalam hal ini menjadi keharusan bagi wanita. Namun jika si istri mengikuti pendapat seorang ulama yang berpendapat bahwa perbuatan A ini haram, maka tidak boleh bagi suami untuk memaksa istrinya untuk melakukan perbuatan itu." (Dinukil Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 130355)


Allahu a’lam.