Advertisement

Hukum Menggunakan Nama “Ar-Rahman”

 

Kita mengimani bahwa Allah memiliki banyak nama, yang semuanya sempurna (al-Asma’ al-Husna). Allah berfirman,


“Hanyalah milik Allah al-Asma’ al-Husna, serulah Dia dengan nama itu.” (QS. Al-A’raf: 180)


Dilihat dari kekhususannya, nama-nama Allah dibagi menjadi 2:


[1] Nama Allah yang hanya khusus untuk Allah. Nama ini tidak boleh digunakan untuk menyebut makhluk, seperti Allah, ar-Rab, al-Ahad, al-Mutakabbir, al-Jabbar, al-A’laa (Yang Maha-Tinggi), Allamul Ghuyub (Yang mengetahui semua yang ghaib).


[2] Nama Allah yang tidak khusus untuk Allah. Nama ini boleh digunakan untuk menyebut makhluk, seperti Sami’, Bashir, Ali, Hakim, atau Rasyid.


Allah menyebut manusia dengan sami’ bashir (makhluk yang mendengar dan melihat). Allah berfirman,


“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia makhluk mendengar dan melihat.” (QS. Al-Insan: 2)


Ada sahabat yang namanya Ali bin Abi Thalib, atau Hakim bin Hizam. Nama beliau termasuk asmaul husna. Dalam Asna al-Mathalib Syarh Raudh at-Thalib – kitab Syafiiyah – dinyatakan,


Boleh menggunakan nama Allah yang tidak khusus untuk diri-Nya. Sementara nama yang khusus untuk-Nya, hukumnya haram. Seperti ini yang ditegaskan an-Nawawi dalam Syarh Muslim. (Asna al-Mathalib, 4/244).


Termasuk diantara nama yang khusus milik Allah adalah ar-Rahman. Allah berfirman,


Katakanlah: “Panggillah Allah atau panggillah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik). (QS. Al-Isra” 110)


Allah juga berfirman,


Apabila dikatakan kepada mereka: “Sujudlah kamu sekalian kepada ar-Rahman”, mereka menjawab: “Siapakah ar-Rahman itu? (QS. Al-Furqan: 60).


Dari sisi maknanya, kata ar-Rahman mengikuti pola (wazan) Fa’laan yang menunjukkan makna hiperbol, untuk menunjukkan sesuatu yang luas. Sehingga kata ar-Rahman maknanya adalah dzat yang memilki rahmat yang sangat luas, meliputi seluruh alam.


Imam Ibnu Utsaimin mengatakan, "Ar-Rahman, artinya Dzat yang memiliki rahmat yang luas. Karena itu, dinyatakan dengan pola (wazan) Fa’lan, yang menunjukkan makna sangat luas." (Tafsir surat al-Fatihah, Ibn Utsaimin)


Sementara makhluk tidak ada yang memiliki rahmat yang luas, meliputi seluruh alam. Sehingga, nama ini hanya khusus untuk Allah, dan tidak boleh digunakan untuk makhluk.


An-Nawawi mengatakan, "Ketahuilah bahwa menggunakan nama Allah yang ini – yaitu Malik a-Amlak (Raja Diraja) – hukumnya haram. Demikian pula nama-nama Allah yang khusus untuk Allah, seperti ar-Rahman, atau al-Quddus, al-Muhaimin, Khaliqul al-Khalq dan semacamnya." (Syarh Shahih Muslim, 14/122).


Allahu a’lam.


Mati Tetapi Hidup

Allah memberikan usia umat ini yang tidak panjang. Rata-rata hanya sekitar 60an-70an. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


“Umur-umur umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit orang yg bisa melampui umur tersebut” (HR. Ibnu Majah, 4236, dihasankan al-Albani)


Ada diantara manusia yang karyanya terkubur, bersamaan dengan terkuburnya badannya. Sehingga begitu dia mati, sudah tidak ada lagi bekas amalnya yang masih bertahan di permukaan bumi.


Sebaliknya, ada manusia yang usia karyanya, jauh lebih panjang dibandingkan usia fisiknya. Sekalipun dia sudah meninggal ratusan tahun di masa silam, namun karyanya tetap segar dan terlihat jelas di permukaan.


Allah menjelaskan dalam al-Quran bahwa Dia tidak hanya mencatat amal perbuatan yang kita lakukan, namun Allah juga mencatat semua pengaruh dan dampak dari perbuatan yang pernah kita lakukan. Allah berfirman,


“Sesungguhnya Kami yang menghidupkan orang mati, Kami catat semua yang telah mereka lakukan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan..” (QS. Yasin: 12)


Al-Hafidz Ibnu Katsir menyebutkan dua tafsir ulama tentang makna kalimat,


‘bekas-bekas yang mereka tinggalkan’


Pertama, Jejak kaki mereka ketika melangkah menuju ketaatan atau maksiat


Ini merupakan pendapat Mujahid dan Qatadah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Najih.


Diantara dalil yang menguatkan pendapat ini adalah hadis dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, bahwa ada Bani Salimah ingin berpindah membuat perkampungan yang dekat dengan masjid nabawi. Karena mereka terlalu jauh jika harus berangkat shalat jamaah setiap hari ke masjid nabawi. Ketika informasi ini sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda,


Wahai Bani Salimah, perjalanan dari rumah kalian ke masjid akan dicatat jejak-jejak kali kalian. (HR. Muslim 1551, dan Ahmad 14940)


Kedua, Pengaruh dari amal yang kita kerjakan


Artinya, Allah mencatat bentuk amal yang mereka kerjakan dan pengaruh dari amal itu. Jika baik, maka dicatat sebagai kebaikan. Dan jika buruk dicatat sebagai keburukan. Ini seperti yang disebutkan dalam hadis dari sahabat Jarir bin Abdillah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


“Siapa yang menghidupkan sunah yang baik dalam Islam, kemudian diikuti oleh orang lain setelahnya maka dicatat untuknya mendapatkan pahala seperti orang yang mengamalkannya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Siapa yang menghidupkan tradisi yang jelek di tengah kaum muslimin, kemudian diikuti oleh orang lain setelahnya, maka dia mendapatkan dosa sebagaimana dosa orang yang melakukannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR. Muslim 2398, Ahmad 19674, dan yang lainnya)


Ada beberapa karya para ulama yang banyak diterima di masyarakat. Allah mengabadikan karya mereka sekalipun jasad mereka sudah terkubur ratusan tahun silam.


Kitab Bulughul Maram, ditulis al-Hafidz Ibnu Hajar. Karya beliau bertahan hingga sekarang, sekalipun beliau telah meninggal tahun 852 H. Usia beliau 79 tahun, sementara karya beliau sudah menginjak usia 590an tahun.


Kitab Riyadhus sholihin, ditulis oleh an-Nawawi. Karya beliau dimanfaatkan banyak masyarakat, meskipun beliau telah wafat tahun 676 H. Usia fisik beliau hanya 45 tahun, namun karya beliau hingga saat ini menginjak usia 765an tahun.


Subhanallah…


Karya mereka jauh lebih panjang dibandingkan usia mereka…


Itulah umur yang kedua… mereka hidup dengan karyanya, meskipun jasadnya telah terkubur di tanah…


Karena itulah, para ulama memahami, bahwa ketika mereka membaca karya para pendahulunya, seolah dia sedang duduk bersama mereka.


Abdullah bin Mubarak pernah mengatakan,


Saya sedang duduk bersama para sahabat dan tabi’in, dengan melihat dan membaca karya mereka dan kitab mereka. (Washaya wa Nashaih li Thalib al-Ilm, 55).


Mulailah berfikir untuk merencanakan umur yang kedua. Membangun karya yang bisa bermanfaat bagi umat, di saat kita sudah tiada. Kita bisa kembangkan sesuai potensi masing-masing. Tidak harus memaksakan diri jadi ustad atau dai.


Jadi pioner kebaikan, atau wakaf yang bisa diabadikan atau sumber kebaikan apapun yang usianya panjang… Karya kita tetap hidup, meskipun jasad sudah tiada…


Allahu a’lam


Bersyukur Masih Diberi Kesehatan

Bersyukurlah kita tidak harus minum 20 liter setiap hari karena penyakit metabolik diabetes insipidus.


Bersyukurlah kita tidak merasakan rasa haus yang hebat dan ekskresi. Sehingga jika berhenti minum air putih, tubuh mulai mengering dan bisa mati kehausan dalam hitungan jam.


Bersyukurlah kita tidak mempunyai ginjal yang dapat menghilangkan cairan hampir secepat menyerapnya.


Bersyukurlah kita masih bisa menahan haus lebih dari satu jam dan tidak mengalami dehidrasi parah seperti bibir pecah-pecah, pusing dan bingung.


Bersyukurlah kita mengawali hari tanpa harus minum sebotol besar air agar tidak dehidrasi lalu harus segera ke kamar mandi untuk mengeluarkannya.


Bersyukurlah kita bisa tidur lebih dari 2 jam tanpa harus minum karena dehidrasi dan ke kamar mandi untuk mengeluarkannya kembali.


Bersyukurlah kita tidak harus mengunjungi toilet 50 kali dalam 24 jam karena harus minum dan langsung mengeluarkannya.


Kejadian diatas bukanlah dongeng atau cerita untuk menakuti manusia. Kejadian diatas dialami oleh seseorang berkebangsaan jerman. Kurang lebih 35 tahun ia menjalani hidup dengan harus minum 20 liter per hari. Maka bersyukurlah...


Makkah Al Mukaramah, 16 Rabiul Awal 1438


Hukum Membaca Basmalah Sebelum Tayamum

 

Jumhur ulama – hanafiyah, malikiyah, syafiiyah, dan hambali – menganjurkan untuk membaca basmalah sebelum tayamum. Dan itu dilakukan sebelum menepukkan kedua tangan di media tayamum.


Kita akan simak keterangan yang mewakili masing-masing madzhab,


[1] Keterangan dalam madzhab hanafi, Dalam al-Jauharah an-Nirah – kitab madzhab hanafiyah – dinyatakan,


Sunah tayammum adalah membaca basmalah sebelum menepukkan kedua tangan… (al-Jauharah an-Nirah, 1/22).


[2] Keterangan dalam madzhab Malikiyah, Dalam Hasyiyah al-Adawi – kitab madzhab maliki – dinyatakan,


Dianjurkan baginya sebelum menepukkan kedua telapak tangan di tanah untuk mengucapkan bismillah… (Hasyiyah al-Adawi, 1/229)


[3] Keterangan dalam madzhab Syafiiyah, Dalam kitab al-Muhadzab – kitab madzhab Syafiiyah – dinyatakan,


Apabila hendak tayamum, dianjurkan untuk membaca basmalah… (al-Muhadzab, 1/68)


[4] Keterangan dalam madzhab hambali. Dalam kitab al-Inshaf disebutkan perbedaan ulama hambali terkait hukum membaca basmalah untuk tayamum. Ada yang mengatakan, basmalah hukumnya wajib ketika wudhu dan tayamum menurut pendapat yang kuat dalam madzhab hambali. Lalu al-Mardawi mengatakan,


Dan diriwayatkan dari beliau – Imam Ahmad – bahwa itu anjuran. (al-Inshaf, 1/288).


Allahu a’lam


Suami Takut Istri

"Kalo nanti istrimu tinggi besar, apakah kamu takut sama dia ?"

Itulah ucapan temanku dari Mesir. Muhammad Ibrahim. Dia orangnya humoris namun ahli dalam ilmu faroid dan bikin nasi kabsah. Tak heran jika banyak yang menyukainya. Berbeda dengan kebanyakan orang mesir lainnya yang banyak omong dan bikin ribet. Gerger katir, begitulah orang banggali menyebut orang misri.

Terlintas dibenaku bagaimana jika istriku nanti berbadan tinggi dan besar. Apakah aku takut sama dia atau malah dia takut kepadaku ?

Sebenarnya ini hanya permasalahan sikap. Takut atau sayang adalah implementasi dari sikap yang kita berikan kepadanya. Jika kita baik kepada istri maka istri akan baik kepada kita. Namun jika sebaliknya istri juga akan berbuat demikian kepada kita.

Hampir seluruh suami di dunia ini takiut kepada istrinya. Namun ketahuilah bahwasannya para suami takut kepada istrinya bukan karena suami itu lemah tidak bisa berantem dengan istri. Namu takutnya suami karena dia sayang dan cinta sama istri. Begitulah cara suami memanjakan istrinya dengan mengatakan takut kepada istri. Ketakutan suami hanyalah sebagai cara suami agar suami bisa memberikan yang terbaik untuk istri. Inilah yang disebut ''the power of love.'' Seakan kecintaan suami kepada istri telah melumpuhkan kekuatan suami.

Sebenarnya suami sangat senang jika istrinya manja dan istri manapun pasti ingin dimanja suaminya. Namun karena suatu faktor bisa mengakibatkan sikap ini berubah. Pernah suatu ketia saya bertemu dengan seorang wanita paruh baya. Hampir sepuluh tahun dia menikah namun suaminya tidak mau memanjakannya. Setiap dia memasak atau mengerjakan apapun tidak pernah dipuji oleh suaminya. Bahkan terkadang makanan yang ia masak pun tidak disentuh. Saya berfikir pasti ada something wrong dalam rumah tangga dia. Ternyata benar, selama 10 tahun rumah tangganya belum dikaruniai anak. Mungkin ini salah satu faktor yang menyebabkan suami enggan memanjakan istrinya.

Dikesempatan lain saya bertemu dengan seorang suami yang sangat sayang sama istrinya. Sehingga kemanapun istrinya pergi selalu diawasi, dikontrol dan diperhatikan. Namun perlakuan suaminya ini membuat gerah sang istri. Sehingga suatu ketika istrinya tidak mengabari karena sibuk pekerjaannya. Dan ketika pulang ke rumah, suaminya marah besar hingga sang istri pun ketakutan. Besoknya sang istri tidak pulang ke rumah suaminya tapi dia pulang ke rumah orang tuanya. Mungkin inilah yang dimaksud dengan over protektif. Dimana kasih sayang membatasi ruang gerak sehingga terjadilah konflik di dalamnya
.
Sebenarnya seorang suami dikodratkan lebih kuat dari istri. Sehingga dalam Al Quran dikatakan pria adalah pemimpin bagi wanita. Allah subhanahu wataala berfirman,

“Kaum pria adalah pemimpin bagi kaum wanita…” (An-Nisa: 34)

Berkata Al Imam Ath thabari rahimahullah menafsirkan ayat di atas: “Kaum pria merupakan pemimpin bagi para wanita dalam mendidik dan membimbing mereka untuk melaksanakan kewajiban kepada Allah dan kepada suami-suami mereka. Karena Allah telah melebihkan kaum pria di atas istri-istri mereka dalam hal pemberian mahar dan infak (belanja) dari harta mereka guna mencukupi kebutuhan keluarga. Hal itu merupakan keutamaan Allah tabaraka wa ta`ala kepada kaum pria hingga pantaslah mereka menjadi pemimpin kaum wanita…”.

Kemudian Al Imam Ath Thabari rahimahullahmenukilkan tafsiran Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhumaterhadap ayat di atas: “Pria (suami) merupakan pemimpin wanita (istri) agar wanita itu mentaatinya dalam perkara yang Allah perintahkan dan mentaatinya dengan berbuat baik kepada keluarganya dan menjaga hartanya. Bila si istri enggan untuk taat kepada Allah, boleh bagi suami untuk memukulnya dengan pukulan yang tidak memberi cacat…”. Ibnu Abbas juga menyatakan pria lebih utama dari wanita dengan nafkah yang diberikannya dan usahanya. (Lihat Tafsir Ath Thabari, 5/57-58)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa‘di rahimahullahberkata setelah membawakan ayat ini dalam tafsir beliau: “Pria memimpin wanita dengan mengharuskan mereka menunaikan hak-hak Allah ta‘ala seperti menjaga apa yang diwajibkan Allah dan mencegah mereka dari kerusakan. Mereka juga memimpin kaum wanita dengan memberi belanja/nafkah, memberi pakaian dan tempat tinggal”. (Taisir Al Karimir Rahman fi Tafsir Al Kalamin Mannan hal. 177)

Karena banyaknya tanggungjawab suami terhadap istri menjadikan suami mempunyai keutamaan daripada istri. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya.”(HR. Tirmidzi, dan dikatakan oleh Syaikh Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan Tirmidzi no. 926: hasan shahih)

Dalam hadist lain Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada selain Allah niscaya akuperintahkan istri untuk sujud kepada suaminya. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang istri dapat menunaikan hak Tuhannya hingga ia menunaikan hak suaminya seluruhnya. Sampai-sampai seandainya suaminya meminta dirinya (mengajaknya bersenggama) sementara dia sedang berada di atas pelana (yang dipasang di atas unta) dia tidak boleh menolaknya”. (HR. Ahmad dalam Musnadnya, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalamShahihul Jami` 5295 dan Irwaul Ghalil 1998)

Merupakan kewajiban seorang istri adalah menuruti perintah suami selama perintah itu tidak bertentangan dengan syariat islam. Sehingga jika istri menolak perintah suami akan mendapatkan dosa. Bahkan istri yang menolak ajakan senggama dari suaminya diancam oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sabda beliau,

“Jika seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu si istri menolak untuk datang maka para malaikat akan melaknatnya sampai pagi”(Shahih, HR. Bukhari no. 5193 dan Muslim no.1436).

Dalam hadist lain Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu si istri menolak ajakan suaminya melainkan yang di langit murka pada istri tersebut sampai suaminya ridha padanya”. (HR. Muslim no. 1436)

Oleh karena itu, salah satu kriteria istri idaman adalah yang taat kepada suaminya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ketika ditanya bagaimana istri yang baik,

“Istri yang menyenangkan ketika dipandang oleh suaminya, taat kepada suaminya ketika diperintah dan ia tidak menyelisihi suaminya dalam perkara yang tidak disukai suaminya baik dalam dirinya maupun harta suaminya. (HR. Ahmad. Dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam As Shahihul Jami` no. 3398, Al Misykat 3272 dan As Shahihah 1838)

Seorang istri tidak diperkenankan puasa sunnah ketika suaminya berada di rumah kecuali setelah mendapat izin darinya, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Tidak boleh seorang istri puasa sunnah sementara suaminya ada di rumah kecuali setelah mendapat izin dari suaminya”(Shahih, HR. Bukhari no. 5192 dan Muslim no. 1026)

Seorang istri diperkenankan keluar rumah untuk shalat di masjid bila telah mendapatkan izin suaminya. Nabishallallahu ‘alaihi wasallam menuntunkan:

“Apabila istri salah seorang dari kalian minta izin ke masjid maka janganlah ia melarangnya”(Shahih, HR. Bukhari no. 5238 dan Muslim no. 442)

Dari beberapa dalil yang telah disebutkan jelaslah bagaimana tingginya kedudukan seorang suami. Semua itu menunjukkan bahwa suamilah yang berhak memimpin keluarganya. Dialah yang pantas sebagai nahkoda bagai sebuah bahtera yang ingin pelayarannya berakhir dengan selamat ke tempat tujuan. Inilah pembagian Allah subhanahu wata’ala yang Maha Adil maka tidak pantas seorang hamba yang mentaati-Nya untuk memprotes ketetapan-Nya. Bukankah Dia Yang Maha Tinggi telah berfirman:

“Dan janganlah kalian iri terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kalian lebih banyak daripada sebagian yang lain. (Karena) bagi kaum pria ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi kaum wanita pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Karena itu mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”(An-Nisa: 32)

Jika chemistry antara suami dan istri telah bersatu makan akan terjadi sebuah harmoni keluarga. Itulah yang disebut keluarga sakinah mawadah warahmah. Maka istilah suami takut istri bukanlah takut secara hakiki tapi takutnya suami kepada istri adalah takut majazi. Sebuah ketakutan yang mengandung makna cinta dan kasih sayang.

Oleh :

Setiadi Abdurrahman
Misfalah, 14 Shafar 1437 H