Advertisement

Hukum Membuang Kucing ?

 

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Ada wanita yang masuk neraka karena seekor kucing. Dia ikat (mengurung) kucing itu, tidak diberi makan atau dilepas sehingga bisa mencari makanan dari serangga." (HR. Bukhari 3318)


Wanita tersebut diadzab oleh Allah karena dia sengaja membunuh kucing tanpa alasan yang dibenarkan. Dia membunuhnya dengan cara tidak memberi makan kucing itu, sampai mati. Tidak diberi makan atau dilepas sehingga bisa mencari makan sendiri.


Karena itu, membiarkan kucing berkeliaran, sehingga dia bisa mencari makan sendiri, bukan termasuk perbuatan yang terlarang. Termasuk membuang kucing, dengan menaruhnya di tempat yang memungkinkan baginya untuk mencari makanan, diperbolehkan. Dan ini tidak terhitung membunuh binatang atau menyiksa binatang.


Dalam Fatwa Lajnah Daimah terdapat pertanyaan,


"Ada seekor kucing betina yang selalu melahirkan anak-anaknya di dalam rumah. Anak-anak kucing tersebut membuat kami resah. Kami membiarkan sang induk bersama anak-anaknya hingga mereka tumbuh besar dan bisa mencari makan sendiri. Ketika sudah besar, anak-anak kucing itu membawa sisa daging dari tong sampah dan mengotori rumah. Saat itu saya langsung mengangkat anak-anak kucing tersebut dan menaruhnya di ujung terjauh sebuah restoran. Yang penting saya menjauhkannya dari rumah. Apakah perbuatan itu salah atau saya berdosa?"


Jawaban Lajnah Daimah,


"Anda boleh membuang anak-anak kucing tersebut agar terhindar dari gangguannya dan, Insya Allah, Anda tidak berdosa." (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah  26/182-183, no. 9687)


Allahu a’lam.


Hukum Lupa Membaca Doa Sebelum Berhubungan

 

Membaca doa sebelum berhubungan memiliki banyak sekali manfaat. Diantaranya,


Pertama, Sebagai tabir aurat manusia dari pandangan jin.


Dalam hadis dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tabir antara pandangan mata jin dengan aurat bani adam (manusia) adalah apabila seseorang melepas pakaiannya, dia membaca: bismillah. (HR. Ibnu Adi, at-Thabrani dalam Mu’jam al-Ausath – al-Mathalib al-Aliyah, al-Hafidz Ibnu Hajar, no. 37).


Kedua, Anak hasil hubungan dilindungi oleh Allah


Dalam hadis dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian (suami) ketika ingin menggauli istrinya, dan dia membaca doa:


بِاسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا


“Dengan (menyebut) nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezki yang Engkau anugerahkan kepada kami.”


Jika Allah menakdirkan (lahirnya) anak dari hubungan tersebut, maka setan tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya.” (HR. Bukhari 141 dan Muslim 1434)


Bagaimana jika lupa?


Jika lupa, tentu saja kesempatan untuk mendapatkan manfaat di atas menjadi hilang. Hanya saja, doa ini tidak wajib, dan tidak ada kaffarah jika ditinggalkan. Dan tidak ada anjuran untuk membacanya di tengah jimak atau setelah jimak.


Dalam Fatwa Syabakah Islamiyah dinyatakan, "Doa ini anjuran dan tidak wajib. Karena itu, siapa yang meninggalkannya, meskipun sengaja, tidak berdosa." (Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 146507)


Allahu a'lam


Hukum Laki-laki Memakai Kalung

 

Pertama, memakai kalung berbahan emas. Hukumnya haram dan bahkan ada ancaman khusus berupa api neraka.


Dari Abu Musa al-Asy’ari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Emas dan sutra dihalalkan bagi para wanita dari ummatku, namun diharamkan bagi para lelaki’.” (HR. an-Nasai 5148 dan Ahmad 4/392 )


Dalam hadis lain, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, suatu ketika, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat ada sahabatnya yang memakai cincin dari emas. Beliaupun langsung mengambilnya dan membanting cincin itu sambil mengatakan, “Kalian sengaja mengambil sepotong neraka dan meletakkannya di tangan kalian.” (HR. Muslim 5593)


Kedua, memakai kalung selain emas, tapi untuk perhiasan. Seperti memakai kalung perak atau kuningan.


Perbuatan ini termasuk menyerupai wanita. Karena perhiasan berupa kalung adalah ciri khas wanita. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat lelaki yang menyerupai wanita atau sebaliknya.


Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. Bukhari 5885).


Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menyatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita, begitu pula wanita yang memakai pakaian laki-laki” (HR. Ahmad 8309 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).


Imam Ibnu Utsaimin mengatakan, "Lelaki yang memakai kalung untuk perhiasan hukumnya haram. Karena ini bagian dari ciri wanita. Sehingga lelaki ini meniru wanita. Sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat lelaki yang meniru wanita. (Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin, jilid 11 – Bab al-Aniyah).


Ketiga, kalung yang tidak berfungsi sebagai perhiasan. Hukumnya dibolehkan, dan tidak ada bentuk pelanggaran syariat di sana. Misalnya kalung sebagai tanda pengenal, seperti tanda pengenal haji atau umrah yang dikalungkan. Kalung yang fungsinya bukan untuk perhiasan, umumnya orang merasa risih menggunakannya. Dia bersabar menggunakannya, karena pertimbangan kebutuhan.


Allahu a’lam


Hukum Membatalkan Shalat Sunah Qabliyah Karena Dengar Iqamah

 

Hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


“Apabila telah dikumandangkan iqamah maka tidak ada shalat kecuali shalat wajib.” (HR. Muslim 1678, Nasai 874 dan yang lainnya).


Selanjutnya hadis dari Abdullah bin Malik bin Buhainah radhiyallahu ‘anhu, Ketika iqamah shalat subuh dikumandangkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat ada sahabat yang sedang shalat sunah. Beliau mengucapkan sesuatu yang saya tidak paham. Usai shalat, kami mengerumuni beliau, lalu bersabda,


“Hampir saja diantara kalian ada yang shalat subuh 4 rakaat.” (HR. Muslim 1682 & Ibnu Majah 1208).


Al-Hafidz al-Iraqi menjelaskan hadis Abu Hurairah di atas, Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “tidak ada shalat kecuali shalat wajib” ada 3 kemungkinan:


[1] Kemungkinan pertama, ketika iqamah tidak disyariatkan shalat sunah


[2] Kemungkinan maknanya, jangan melakukan shalat, meskipun shalat sunah sudah dimulai sebelum iqamah. Namun dia harus batalkan, agar bisa mendapatkan keutamaan takbiratul ihram.


[3] Kemungkinan maknanya, ketika iqamah, shalat sunah batal dengan sendirinya, meskipun tidak dibatalkan oleh orang yang melakukannya. (Nailul Authar, as-Syaukani, 3/102).


Hanya saja, kemungkinan ketiga cukup jauh, karena iqamah bukan termasuk pembatal shalat. Karena itulah, dalam hadis Abdullah bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut orang yang mengerjakan shalat qabliyah subuh ketika iqamah, seolah telah mengerjakan shalat subuh 4 rakaat. Artinya, qabliyah subuh yang dia kerjakan tetap sah, meskipun dia melakukan pelanggaran dari sisi waktu pelaksanaan.


Lalu apakah harus dibatalkan ketika mendengar iqamah, apapun posisinya?


As-Syaukani menyebutkan keterangan Syaikh Abu Hamid – dari syafiiyah – mengatakan, “Yang afdhal, dia batalkan shalat sunah, dengan batasan, apabila dilanjutkan akan menyebabkan dirinya ketinggalan takbiratul ihram.” Dan alasan ini sangat jelas. (Nailul Authar, as-Syaukani, 3/102).


Berdasarkan batasan ini, tidak bisa ditegaskan di posisi mana makmum harus membatalkan shalat sunahnya. Intinya, ketika makmum merasa dirinya akan ketinggalan takbiratul ihram jika shalat sunah dikerjakan, maka dia bisa segera batalkan shalat sunahnya. Jika dia di posisi tasyahud akhir, dan dia yakin jika dilanjutkan tidak ketinggalan takbiratul ihram imam, maka tidak masalah diselesaikan.


Allahu a’lam.