Advertisement

Apakah Arsy Allah di Atas Air ?

 

Keterangan bahwa Arsy Allah berada di atas air dinyatakan di surat Hud, Allah berfirman,


وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا


Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah Arsy-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya… (QS. Hud: 7)


Dalam ayat ini Allah memberitakan bahwa Arsy-Nya berada di atas air sebelum Allah mencinptakan langit dan bumi dan berikut isinya.


Qatadah – ulama tafsir tabi’in – mengatakan, "Allah Ta’ala menyampaikan kepada kalian bagaimana Allah memulai ciptaan-Nya, sebelum Allah menciptakan langit dan bumi." (Tafsir at-Thabari, 15/246)


Dinyatakan dalam hadis dari Imran bin Husain Radhiyallahu ‘anhu, Bahwa ada beberapa penduduk Yaman menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menanyakan sesuatu, “Kami datang kepada anda untuk menanyakan perihal ini..”


Jawaban Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, "Allah telah ada dan sesuatu apapun selain-Nya belum ada. Arsy-Nya berada di atas air. Dia mencatat segala sesuatu dalam ad-Dzikr (al-Lauh al-Mahfudz). Dan Dia menciptakan langit dan bumi. (HR. Bukhari 3191 dan Baihaqi dalam al-Kubro 17702).


Ayat dan hadis di atas menjelaskan tentang kondisi awal penciptaan alam semesta. Dan bahwa Arsy Allah berada di atas air sebelum penciptaan langit dan bumi. Meskipun Arsy Allah senantiasa berada di atas air.


Dalam hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Bisa kalian perhatikan apa yang diberikan Allah sejak Dia menciptakan langit dan bumi, dan apa yang berada di tangan-Nya sama sekali tidak berkurang, dan Arsy-Nya berada di atas air. (HR. Bukhari 6869 dan Muslim 1659)


Kesimpulan bahwa Arsy Allah selalu berada di atas air, diambil dari hadis di atas. Di mana Allah selalu memberi dari sejak penciptaan langit dan bumi hingga sekarang. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan, “Arsy-Nya berada di atas air.”


Al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan, "Makna tekstual hadis yang sebelumnya bahwa Arsy dulu berada di atas air, sebelum penciptaan langit dan bumi. Dan disepakati bahwa Arsy Allah selalu berada di atas air. Dan yang dimaksud dengan air bukan air lautan, namun dia adalah air di bawah Arsy sebagaimana yang Allah kehendaki." (Fathul Bari, 13/410).


Allahu a’lam


Apakah Istri Harus Mentaati Suami dalam Perbedaan Fiqih ?

Allah berfirman dalam al-Quran, "Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada…" (QS. an-Nisa: 34)


At-Thabari menjelaskan, "Ini adalah kelebihan yang diberikan Allah kepada para suami, lebih tinggi dibandingkan para istrinya. Karena itu mereka menjadi pemimpin bagi para wanita, pemutus perkara mereka, untuk urusan wanita yang Allah serahkan kepada para suami. Lalu Allah memuji wanita qanitah, yaitu mereka yang taat kepada Allah dan suaminya."


Kemudian at-Thabari menyebutkan keterangan Ibnu Abbas, "Artinya para lelaki adalah pemimpin, dan kewajiban mereka para wanita adalah mentaati suaminya sesuai yang Allah perintahkan untuk mentaatinya."


Apakah ketaatan ini berlaku mutlak ? Ketaatan kepada makhluk tentu saja tidak berlaku mutlak, namun di sana ada batasan.


Pertama, tidak boleh dalam hal maksiat


Kita tidak boleh mentaati makhluk dalam hal maksiat. Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Tidak ada ketaatan bagi makhluk dalam hal maksiat kepada Allah Ta’ala." (HR. Ahmad 1095 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)


Kedua, tidak sampai membahayakan diri sendiri


Karena mentaati suami adalah untuk kebaikan bersama, termasuk istri. Sehingga tidak boleh menyebabkan adanya madharat dalam ketaatan ini. Allah ajarkan agar kita melaksanakan perintah-Nya sesuai kemampuan kita.


Allah berfirman, “Bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu..” (QS. at-Taghabun: 16)


Jika terjadi perbedaan dalam masalah fiqh, apakah istri juga harus taat kepada suami ?


Al-Izz bin Abdus Salam memberikan kaidah, "Kaidah tentang orang yang wajib ditaati, yang boleh ditaati, dan yang tidak boleh ditaati. Tidak ada ketaatan kepada seorang makhluk kecuali untuk orang yang diizinkan oleh Allah untuk ditaati, seperti para rasul, ulama, pemerintah, qadhi, para wali, orang tua, ibu, pemimpin, atau suami."


Lalu beliau melanjutkan, "Jika seorang imam atau hakim memerintahkan seseorang untuk melakukan sesuatu yang dia yakini halalnya, sementara yang diperintah meyakini haramnya, apakah yang diperintah boleh melakukannya, dengan pertimbangan sesuai pemahaman yang memerintah? Ataukah tidak boleh melakukannya, dengan pertimbangan pemahaman yang diperintah?. Ada perbedaan pendapat dalam hal ini."


Termasuk kasusnya, Jika suami menyuruh istrinya melakukan perbuatan A, sementara mereka berbeda pendapat mengenai hukumnya, apakah istri boleh melakukan perbuatan A padahal dia yakini itu haram, mengingat ini perintah suami? Ataukah dia tidak boleh melakukannya karena menurut pemahaman dia itu dilarang. Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini.


Ibnu Qudamah menyebutkan contohnya, "Jika ada seorang lelaki memiliki 2 istri, yang satu muslimah dan yang satu ahli kitab (dzimmiyah), lalu mereka minum sedikit khamr yang tidak sampai menyebabkan mabuk (karena sedikit), apakah suami boleh melarang keduanya ?"


"Ketika istri ingin minum khamr namun tidak sampai membuat mabuk, maka suami berhak melarang istri muslimah. Karena keduanya (suami dan istri muslimah) sama-sama yakin bahwa itu haram. Namun untuk istri dzimmiyah, suami tidak berhak melarangnya, sebagaimana yang ditegaskan Imam Ahmad. Karena minuman ini dia yakini halal menurut agamanya."


Beliau melanjutkan, "Demikian hukum yang berlaku jika seorang lelaki menikahi muslimah yang meyakini khamr nabiz sedikit itu mubah, apakah suami berhak melarangnya? Ada dua pendapat dalam hal ini. Madzhab Imam as-Syafii dalam masalah ini ada rincian. Dan dinyatakan as-Suyuthi bahwa yang rajih (lebih kuat) adalah pendapat yang membolehkan suami untuk melarangnya. Beliau menyebutkan satu kadiah dalam al-Asybah wa an-Nadzair,


Kaidah ke-35 – hal yang diperselisihkan tidak diingkari, namun yang diingkari adalah hal yang disepakati. dikecualikan dari kaidah ini, jika yang mengingkari memiliki hak, seperti suami yang berhak melarang istrinya minum nabiz, ketika istrinya meyakini itu mubah, atau melarang istrinya yang nasrani, menurut pendapat yang benar. (al-Asybah wa an-Nadzair, hlm. 158)


Berdasarkan keterangan di atas, ada beberapa hal yang perlu kita bedakan,


[1] Sejauh mana istri wajib taat kepada suami dalam masalah perbedaan pendapat fiqh?


[2] Apakah suami boleh memaksa istri untuk mengikuti pendapat fiqhnya?


Disimpulkan oleh Dr. Abdul Aziz as-Syibl – Pengajar di Universitas Imam Muhammad bin Saud, "Jika yang dilarang masalah yang mubah, dimana tidak membahayakan bagi istri ketika mentaati suaminya, maka mentaati suami dalam hal ini menjadi keharusan bagi wanita. Namun jika si istri mengikuti pendapat seorang ulama yang berpendapat bahwa perbuatan A ini haram, maka tidak boleh bagi suami untuk memaksa istrinya untuk melakukan perbuatan itu." (Dinukil Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 130355)


Allahu a’lam.


Apakah Shalat Jama Takhir Harus Sesuai Urutannya ?

Seperti yang kita pahami, men-jamak ada yang taqdim dan ada yang takhir. Untuk jamak taqdim sebagian menegaskan bahwa ulama sepakat harus sesuai urutan. Sehingga mereka yang menjamak shalat dzuhur dengan asar di waktu dzuhur, harus mendzahulukan dzuhur sebelum asar.


An-Nawawi menyebutkan, "Imam as-Syafii dan para ulama Syafiiyah mengatakan, apabila seorang musafir melakukan jamak di waktu yang pertama, ada 3 syarat agar jamaknya sah. yang pertama, tertib (sesuai urutan shalat). Wajib mendahulukan shalat yang pertama, karena shalat yang kedua sifatnya mengikuti, sehingga harus mendahulukan yang diikuti. Dan karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan jamak taqdim seperti ini, dan beliau bersabda, “Lakukanlah shalat sebagaimana kalian melihatku shalat.” Jika dia mulai dengan shalat yang kedua, maka tidak sah shalatnya, dan wajib diulangi dengan mengerjakan shalat pertama (al-Majmu’, 4/374).


Sementara untuk jamak takhir, apakah harus dikerjakan berurutan sesuai urutan shalat? Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini.


[1] Jumhur ulama berpendapat, wajib dilakukan sesuai urutan shalat.


Sehingga jamak takhir dzuhur dengan asar di waktu asar, harus mendahulukan dzuhur baru kemudian shalat asar.


Dalam Fatwa Lajnah dinyatakan, "Wajib tertib ketika jamak. dimana dia shalat dzuhur dulu, kemudian shalat asar. Dia shalat maghrib dulu, kemudian shalat isya. Baik jamak taqdim maupun jamak takhir. (Fatwa Lajnah Daimah, no. 425).


Keterangan yang lain disampaikan Ibnu Utsaimin, "Disyaratkan harus tertib, dimulai dengan shalat yang pertama kemudian shalat yang kedua. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Lakukanlah shalat sebagaimana kalian melihatku shalat.’ Karena syariat mengajarkan urutan waktu dalam shalat.


[2] Jamak takhir tidak wajib tertib sesuai urutan shalat. Artinya, boleh saja dikerjakan tanpa memperhatikan urutan shalat. Ini merupakan pendapat Syafiiyah.


Abdurrahman al-Jaziri menyebutkan pendapat Syafiiyah, "Tertib dan muwalah (berkelanjutan) ketika mengerjakan kedua shalat dalam jamak takhir hukumnya anjuran dan bukan syarat." (al-Fiqh ala al-Madzahib al-Arba’ah, 1/441)


Diantara dalil yang mendukung hal ini adalah hadis yang menceritakan tentang jamak ketika peristiwa perang Khandaq, "Kaum musyrikin membuat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bisa mengerjakan shalat 4 waktu ketika perang Khandaq. Lalu beliau perintahkan Bilal untuk adzan, kemudian iqamah lalu shalat dzuhur, kemudian iqamah lagi lalu shalat asar, kemudian iqamah lagi lalu shalat maghrib, kemudian iqamah lagi lalu shalat isya." (HR. Ahmad 3555, Nasai 669 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth)


Allahu a’lam


Siapakah Rabiah al-Adawiyah ?

Ada sebagian orang yang memiliki perpektif yang tidak benar tentang Rabiah al-Adawiyah – rahimahallah –.. terutama dikaitkan dengan cerita karamahnya. Diantaranya diceritakan Rabiah ketika sejak bayi setiap senin dan kamis tidak mau menyusu ibunya karena puasa, dia bisa kenyang sekalipun tidak mengkonsumsi apapun.


Rabiah juga diyakini sebagai tokoh sufi wihdatul wujud, menyatu raga dengan sang Khalik. Ada yang membawakan riwayat, bahwa Rabiah pernah mengatakan, "Aku adalah pendengaran yang dipakai oleh-Nya untuk mendengarkan."


Dan semua ini penyimpangan terkait sejarah Sayidah Rabiah. Hingga ad-Dzahabi mengatakan, "Dan ini sikap berlebihan dan kebodohan. Bisa jadi yang menceritakan hal ini terkait Rabiah adalah orang yang membolehkan aqidah hulul (wihdatul wujud), untuk dijadikan alasan mengkafirkannya." (Siyar A’lam an-Nubala’, 8/243).


Rabiah al-Adawiyah hidup di zaman Imam Sufyan at-Tsuari. Rabiah termasuk wanita ahli ibadah, zuhud, dan selalu khusyu, dan sering memberikan penjelasan tentang hikmah.


Abu Said bin al-Arabi mengatakan, ‘Terkait Rabiah, masyarakat banyak mendapatkan hikmah yang banyak darinya.’


Sufyan at-Tsauri (wafat 161 H) pernah mendapat pesan dari Rabiah, "Kamu hanyalah hitungan hari tertentu. Jika sudah berlalu satu hari, hilang sebagian dirimu. Jika sudah hilang sebagian, sebentar lagi akan hilang semuanya. Dan kamu telah memahaminya, karena itu beramal-lah."


Diantara perkataan hikmah Rabi’ah, "Aku memohon ampun kepada Allah karena kurang jujur ketika saya membaca istighfar."


Salah satu wanita yang melayani Rabiah, bernama Abdah bintu Abi Syawwal pernah mengatakan, "Rabiah melaksanakan shalat semalaman. Ketika sudah terbit fajar, beliau tidur sejenak di tempat shalatnya, hingga fajar mulai menguning. Ketika beliau terbangun dari tidurnya, aku sering mendengar beliau mengucapkan, "Wahai jiwaku, berapa lama kau tidur? Sampai berapa lama kau akan bicara? Hampir saja ketika kamu tidur, kamu tidak akan bangun kecuali sampai kiamat." (Siyar A’lam an-Nubala’, 8/242)


Menurut Abdah bin Abi Syawal, ini merupakan kebiasaan Rabi’ah selama hidupnya hingga beliau wafat. Rahimahallah rahmatan wasiah


Tidak ada riwayat yang shahih mengenai mukjizat atau karamah Rabi’ah sebagaimana yang sering diramaikan masyarakat. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa usia beliau 80 tahun dan beliau meninggal di tahun 180 H. Semoga Allah merahmati beliau dan semua umat yang meniti jalan kebenaran.


Allahu a’lam.


Istilah Ideal Menyebut Sepekan dalam Islam

Masalah istilah pada asalnya kembali kepada urf yang berlaku di masyarakat, selama tidak ada unsur larangan di sana. Dulu para sahabat menyebut shalat isya dengan shalat atamah [العَتَمَة], meniru kebiasaan masyarakat badui yang menyebut waktu isya dengan waktu atamah. Istilah atamah secara bahasa artinya gelap. (Hasyiyah as-Sindi ala Ibn Majah, 1/239).


Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menyebut shalat isya dengan shalat atamah. Dalam hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


Janganlah kalian kalah dengan orang arab dalam menamai shalat kalian. Sesungguhnya shalat itu namanya isya. Sementara mereka masuk waktu malam karena mengurusi onta mereka. (HR. Muslim 1487, Ahmad 4572 dan yang lainnya).


Namun di kesempatan yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang menyebut shalat isya dengan shalat atamah. Seperti dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِى الْعَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

Andai mereka tahu keutamaan dalam shalat atamah dan subuh, niscaya mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak. (HR. Bukhari 615 & Muslim 1009)


Karena itu, sebagian ulama – seperti Ibnu Qudamah (al-Mughni, 1/279) – menyebutkan bahwa dianjutkan mempertahankan penamaan shalat isya dengan isya, dan tidak dianjurkan menggunakan nama atamah. Artinya, pelurusan istilah ini adalah dengan pertimbangan mana yang paling ideal. Kesimpulan ini yang bisa kita tarik untuk penamaan pekan.


Standar satu pekan dikembalikan kepada nama hari yang dianggap paling mulia. Masyarakat kita menggunakan istilah se-minggu. Artinya, minggu menjadi hari istimewa bagi mereka, sehingga dijadikan ukuran standar pekan. Mengapa minggu yang istimewa bagi mereka?


Tentu saja ini terlepas dari doktrin agama. Alasan yang paling tepat, karena hari ahad adalah hari libur bagi mereka. Sehingga dijadikan acuan akhir pekan. Dalam islam, kita diajarkan bahwa pemimpin semua hari adalah jumat. Artinya, hari yang paling istimewa dalam islam adalah jumat.


Dari Abu Lubabah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


إِنَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ سَيِّدُ الْأَيَّامِ وَأَعْظَمُهَا عِنْدَ اللهِ

“Sesungguhnya hari Jumat itu adalah pemimpin seluruh hari dan hari paling mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Ibnu Majah 1137 dan dishahihkan al-Albani)


Karena itulah, yang ideal dalam islam, ukuran standar pekan adalah jumat dan bukan ahad. Sehingga yang lebih tepat sejumat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan ukuran sejumat ini dalam beberapa hadis beliau, diantaranya hadis tentang Dajjal,


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya para sahabat, berapa lama Dajjal tinggal di bumi. Beliau menjawab,


أَرْبَعِينَ يَوْمًا، يَوْمٌ كَسَنَةٍ، وَيَوْمٌ كَشَهْرٍ، وَيَوْمٌ كَجُمُعَةٍ وَسَائِرُ أَيَّامِهِ كَأَيَّامِكُمْ

“Selama 40 hari. Hari pertama seperti setahun, hari kedua seperti sebulan, hari ketiga seperti sejumat, dan hari-hari sisanya seperti hari biasa.” (HR. Muslim 2940, turmudzi 2240, dan Ahmad 17629)


Dalam hadis di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut satu pekan dengan sejumat. Karena itulah, yang lebih ideal, kita menyebut satu pekan dengan sejumat, dan bukan seminggu. Dan sekali lagi, ini hanya pembahasan terkait istilah yang paling ideal. Bukan masalah hukum boleh dan tidak boleh.


Allahu a’lam.


Hukum Cadar Menurut Para Ulama Syafiiyah

 

[1] Keterangan Imamul Haramain al-Juwaini


Beliau menjelaskan perbedaan pendapat ulama tentang cadar. Selanjutnya beliau menyebutkan pendapat yang melarang melihat wajah wanita yang bukan mahram. Lalu beliau mengatakan,


“dan itu pendapat yang lebih kuat menurutku, disertai kesepakatan kaum muslimin untuk melarang para wanita dari melakukan tabarruj dan membuka wajah mereka dan meninggalkan cadar…”(Nihayah al-Mathlab fi Dirayah al-Madzhab, 12/31)


[2] Keterangan al-Ghazali.


Dalam Ihya’ Ulumiddin beliau menegaskan, “Jika seorang wanita keluar maka hendaknya ia menundukkan pandangannya dari memandang para lelaki. Kami tidak mengatakan bahwa wajah lelaki adalah aurat bagi wanita –sebagaimana wajah wanita yang merupakan aurat bagi lelaki- akan tetapi ia sebagaimana wajah pemuda amrod (yang tidak berjanggut dan tanpan) bagi para lelaki, maka diharamkan untuk memandang jika dikhawatirkan fitnah, dan jika tidak dikhawatirkan fitnah maka tidak diharamkan. Karena para lelaki senantiasa terbuka wajah-wajah mereka sejak zaman-zaman lalu, dan para wanita senantiasa keluar dengan bercadar. Kalau seandainya wajah para lelaki adalah aurat bagi wanita maka tentunya para lelaki akan diperintahkan untuk bercadar atau dilarang untuk keluar kecuali karena darurat” (Ihya Ulum ad-Diin, 2/47)


Pernyataan al-Ghazali sangat jelas mengenai wajibnya bercadar. Dan pernyataan ini beliau sampaikan di kitab yang kita semua kenal, ihya ulumuddin.


[3] Keterangna an-Nawawi


“Dan diharamkan seorang lelaki dewasa memandang aurat wanita dewasa ajnabiyah, demikian juga haram memandang wajahnya dan kedua tangannya tatkala dikhawatirkan fitnah, dan demikian juga haram tatkala aman dari fitnah menurut pendapat yang benar.” (Minhaj at-Thalibin, hlm. 95)


Wanita ajnabiyah artinya wanita yang bukan mahram dan bukan istri dari seorang lelaki.


[4] Keterangan as-Suyuthy.


Beliau menjelaskan tingkatan aurat wanita, “Wanita perihal auratnya memiliki beberapa keadaan, (1) kondisi bersama suaminya, maka tidak ada aurat diantara keduanya, dan ada pendapat bahwa kemaluan adalah aurat (2) kondisi wanita bersama lelaki asing, maka auratnya adalah seluruh badannya, termasuk wajah dan kedua telapak tangan menurut pendapat yang lebih benar, (3) Kondisi bersama para mahromnya dan para wanita lain, maka auratnya antara pusar dan lutut, (4) dan auratnya tatkala sholat adalah seluruh badan kecuali wajah dan kedua telapak tangan” (al-Asybah wa an-Nadzair, hlm. 240).


[5] Keterangan as-Subki.


Beliau menegaskan perbedaan aurat wanita di depan lelaki dan aurat ketika shalat, “Yang lebih dekat kepada sikap para ulama syafi’iyah bahwasanya wajah wanita dan kedua telapak tangannya adalah aurat dalam hal dipandang bukan dalam sholat” (Keterangan as-Subki disebutkan asy-Syarbini dalam Mughni al-Muhtaj, 3/129).


[6] Keterangan asy-Syarbini.


Beliau menegaskan, sekalipun wajah bukan aurat bagi wanita ketika shalat, namun jika wanita shalat di tempat terbuka yang dilihat lelaki umum, dia tidak boleh melepas cadarnya, “Dan dimakaruhkan seorang lelaki sholat dengan baju yang ada gambarnya, demikian juga makruh sholat dengan menutupi wajahnya. Dan dimakruhkan seorang wanita sholat dengan memakai cadar kecuali jika dia sholat di suatu tempat dan ada para lelaki yang bukan mahramnya, yang tidak menjaga pandangan mereka untuk melihatnya maka tidak boleh baginya untuk membuka cadarnya” (Al-Iqnaa’, 1/124).


Dan masih banyak keterangan para ulama syafiiyah lainnya yang menekankan bagi para wanita untuk bercadar.


Allahu a’lam.