Delemon Spiritual

Advertisement

Mengapa Dajjal Menjadi Ujian Terbesar Bagi Manusia ?

Dalam hadis dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


إِنَّهُ لَمْ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِى الأَرْضِ مُنْذُ ذَرَأَ اللَّهُ ذُرِّيَّةَ آدَمَ أَعْظَمَ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ وَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَبْعَثْ نَبِيًّا إِلاَّ حَذَّرَ أُمَّتَهُ الدَّجَّال


“Tidak ada ujian di muka bumi sejak Allah ciptakan Adam, yang lebih besar melebihi fitnah Dajjal. Dan sungguh, setiap Allah mengutus seorang nabi, pasti dia akan mengingatkan umatnya dari bahaya Dajjal.” (HR. Ibnu Majah 4215).


Dalam hadis lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menekankan agar kita banyak memohon perlindungan dari fitnah Dajjal. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,


إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ


“Jika salah seorang dari kalian (selesai –pen) tasyahud maka hendaklah dia memohon perlindungan kepada Allah dari 4 hal dengan mengucapkan,


اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ


“Yaa Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Mu dari ‘adzab jahannam, ‘adzab qubur, fitnah/cobaan kehidupan dan kematian dan dari keburukan fitnah al masih ad dajjal.” (HR. Bukhori 5376 dan Muslim 588)


Mengapa Dajjal Menjadi Fitnah Terbesar? Karena daya rusak fitnah Dajjal lebih membahayakan akhirat manusia. Dalam banyak aktivitas Dajjal yang disebutkan dalam hadis, dia tidak membantai kaum muslimin, tapi menyesatkan kaum muslimin agar menjadi pengikutnya.  Ada beberapa hadis yang menunjukkan bahwa Dajjal lebih bertujuan menyesatkan kaum muslimin, dan bukan membantai kaum muslimin.


[1] Dajjal muncul di tengah manusia, menyebarkan pemikiran menyimpang kepada mereka. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda,


إِنْ يَخْرُجْ وَأَنَا فِيكُمْ فَأَنَا حَجِيجُهُ دُونَكُمْ ، وَإِنْ يَخْرُجْ مِنْ بَعْدِي ، فَاللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى خَلِيفَتِي عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ.


“Jika saat Dajjal muncul dan aku (Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam) masih bersama kalian maka akulah yang akan melindungi kalian darinya. Allah Ta’ala adalah pelindungku dan setiap muslim.” (HR. Ahmad 17629 & Muslim 2937)


[2] Dajjal melarang pengikutnya untuk membunuh siapapun tanpa seizinnya. Dalam hadis dari Abu Said al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita tentang Dajjal,


يَخْرُجُ الدَّجَّالُ فَيَتَوَجَّهُ قِبَلَهُ رَجُلٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ، فَتَلْقَاهُ الْمَسَالِحُ – مَسَالِحُ الدَّجَّالِ – فَيَقُولُونَ لَهُ: أَيْنَ تَعْمِدُ؟ فَيَقُولُ: أَعْمِدُ إِلَى هَذَا الَّذِي خَرَجَ، قَالَ: فَيَقُولُونَ لَهُ: أَوَ مَا تُؤْمِنُ بِرَبِّنَا؟ فَيَقُولُ: مَا بِرَبِّنَا خَفَاءٌ، فَيَقُولُونَ: اقْتُلُوهُ، فَيَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ: أَلَيْسَ قَدْ نَهَاكُمْ رَبُّكُمْ أَنْ تَقْتُلُوا أَحَدًا دُونَهُ، قَالَ: فَيَنْطَلِقُونَ بِهِ إِلَى الدَّجَّالِ


Dajjal keluar, lalu datanglah seorang mukmin untuk menemui Dajjal. Namun dia tertangkap oleh para penjaga markas Dajjal.

“Kamu mau ke mana?” tanya mereka.

“Aku mau menemui makhluk yang sudah keluar itu (Dajjal).” Jawab si Mukmin.

“Apakah kamu belum beriman kepada Rab kami?” tanya penjaga.

“Rab kami tidaklah samar.” Jawab si Mukmin.

Tiba-tiba ada yang menyuruh, “Bunuh dia!”

Sebagian menghalangi, “Bukankah rab kita (Dajjal) melarang kalian untuk membunuh siapapun tanpa seizinnya?”

Akhirnya mereka membawa orang itu menghadap Dajjal…. (HR. Muslim 2938).


Dalam lanjutan hadis terjadi dialog panjang antara mukmin ini dengan Dajjal. Hingga akhirnya setelah Dajjal kalah debat, sang Mukmin ini dimasukkan ke nerakanya Dajjal.


[3] Dajjal membiarkan kaum yang tidak mengimaninya untuk tetap hidup, tapi mereka dibuat menderita kelaparan. Dari An-Nawwas bin Sam’an Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita,


فَيَأْتِي عَلَى الْقَوْمِ فَيَدْعُوهُمْ، فَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَجِيبُونَ لَهُ، فَيَأْمُرُ السَّمَاءَ فَتُمْطِرُ، وَالْأَرْضَ فَتُنْبِتُ، فَتَرُوحُ عَلَيْهِمْ سَارِحَتُهُمْ، أَطْوَلَ مَا كَانَتْ ذُرًا، وَأَسْبَغَهُ ضُرُوعًا، وَأَمَدَّهُ خَوَاصِرَ


Dajjal mendatangi suatu kaum lalu mengajak mereka, dan merekapun beriman dan menerima ajakan Dajjal. Lalu dia perintahkan langit hingga turunlah hujan, dan dia perintahkan bumi hingga tumbuh banyak tanaman. Sehingga mereka menggiring pulang binatang ternak mereka dalam keadaan punuk besar, penuh dengan susu dan kambingnya besar, serta perut mereka gemuk (karena kenyang).


Lanjutan hadis,

ثُمَّ يَأْتِي الْقَوْمَ، فَيَدْعُوهُمْ فَيَرُدُّونَ عَلَيْهِ قَوْلَهُ، فَيَنْصَرِفُ عَنْهُمْ، فَيُصْبِحُونَ مُمْحِلِينَ لَيْسَ بِأَيْدِيهِمْ شَيْءٌ مِنْ أَمْوَالِهِمْ، وَيَمُرُّ بِالْخَرِبَةِ، فَيَقُولُ لَهَا: أَخْرِجِي كُنُوزَكِ، فَتَتْبَعُهُ كُنُوزُهَا كَيَعَاسِيبِ النَّحْلِ


Kemudian Dajjal mendatangi kaum yang lain, dia mendakwahi mereka, namun mereka menolak ajakan Dajjal. Dajjal-pun meninggalkan mereka dalam kondisi mereka serba kekurangan, tidak memiliki harta apapun. Lalu dia melewati tempat reruntuhan dan memerintahkan ke tanah itu, “Keluarkan semua simpanan hartamu.” Tiba-tiba harta simpanan di tanah itu semua mengikuti Dajjal, seperti lebah jantan (mengikuti ratunya). (HR. Ahmad 17629, Muslim 7560, dan yang lainnya)


[4] Dajjal mengajak orang untuk mengakui dirinya sebagai tuhan, dan Allah memberikan kemampuan bagi Dajjal berbagai macam kesaktian, sehingga membuat orang mudah percaya. Diantaranya,

a. Dajjal bisa memerintahkan awan untuk menurunkan hujan dan bisa memerintahkan bumi untuk menumbuhkan tanaman.
b. Dajjal memiliki surga dan neraka.
c. Dajjal bisa mengeluarkan harta simpanan milik kaum
d. Punya kerja sama dengan setan


Dalam hadis dari Abu Umamah al-Bahili, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di antara fitnah Dajjal, dia menawarkan seorang Arab badui, ‘Renungkan, sekiranya aku bisa ‎membangkitkan ayah ibumu yang telah mati, apakah kamu akan bersaksi bahwa aku adalah Rabbmu?’ ‎Laki-laki arab tersebut menjawab, ‘Ya.’ Kemudian muncullah 2 setan yang menjelma di hadapannya ‎dalam bentuk ayah dan ibunya. Keduanya berpesan, ‘Wahai anakku, ikutilah dia, sesungguhnya dia ‎adalah Rabbmu.’” (HR. Ibnu Majah 4077, dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih Jaami’us Shogir). ‎


Semoga Allah melindungi kaum muslimin dari kejahatan fitnah Dajjal.. amiin


Allahu a’lam.


Referensi :
- HR. Ibnu Majah 4215
- HR. Bukhori 5376 dan Muslim 588
- HR. Ahmad 17629 & Muslim 2937


Inilah Penyebab Manusia Kerasukan Jin

Syaikhul Islam menjelaskan sebab seseorang mudah kerasukan jin, “Jin yang merasuki manusia bisa saja terjadi karena dorongan syahwat atau hawa nafsu atau karena jatuh cinta. Sebagaimana yang terjadi antara manusia dengan manusia. Bisa juga terjadi – dan ini yang paling banyak – karena kebencian atau kedzaliman (yang dilakukan manusia), misalnya ada orang yang mengganggu jin atau jin mengira ada seseorang yang sengaja mengganggu mereka, baik dengan mengencingi jin atau membuang air panas ke arah jin atau membunuh sebagian jin, meskipun si manusia sendiri tidak mengetahuinya. Namun jin juga bodoh dan dzalim, sehingga dia membalas kesalahan manusia dengan kedzaliman melebihi yang dia terima. Terkadang juga motivasinya hanya sebatas main-main atau mengganggu manusia, sebagaimana yang dilakukan orang jelek di kalangan manusia.” (Majmu’ al-Fatawa, 19/39).


Dalam karyanya yang lain, Syaikhul Islam menyimpulkan, Jin merasuki tubuh manusia karena 3 sebab:


[1] Terkadang karena seorang jin menyukai orang yang kesurupan, agar dia bisa menikmati kebersamaan dengannya. Kesurupan semacam ini yang paling mudah untuk disembuhkan dibandingkan yang lainnya.


[2] Terkadang karena manusia itu mengganggu jin ketika dia mengencingi mereka atau menyiramkan air panas ke mereka atau membunuh sebagian jin atau bentuk gangguan lainnya. Ini jenis kesurupan yang paling susah.


[3] Terkadang karena jin main-main, seperti gaya preman di kalangan manusia yang suka ganggu orang di jalan. (Daqaiq at-Tafsir, 2/137).


Memahami hal ini, kita menekankan, hindari semua yang bisa mengganggu jin. Seperti membuang air panas sembarang tempat atau mengencingi lubang, dst.


Allahu a'lam


Referensi :
- Majmu’ al-Fatawa, 19/39
- Daqaiq at-Tafsir, 2/137


Benarkah di Surga Tidak Ada Matahari dan Bulan ?

Kita mengimani firman Allah sebagaimana yang Dia nyatakan dalam al-Quran,


مُتَّكِئِينَ فِيهَا عَلَى الْأَرَائِكِ لَا يَرَوْنَ فِيهَا شَمْسًا وَلَا زَمْهَرِيرًا


“Di dalam surga mereka duduk bertelekan di atas dipan, di dalamnya mereka tidak merasakan matahari dan tidak pula zamharir.” (QS. al-Insan: 13)


[1] Keterangan Ibnul Jauzi, Firman Allah, (yang artinya) “di dalamnya mereka tidak merasakan matahari” sehingga mereka terganggu dengan teriknya matahari. Dan tidak merasakan zamharir, yaitu cuaca dingin yang kuat. Maknanya, mereka tidak merasakan panas dan dingin. Sementara Ibnu Tsa’lab menyebutkan bahwa Zamharir maknanya adalah bulan. Sehingga maksud ayat, tidak terlihat bulan. (Tafsir Zadul Masir, Ibnul Jauzi, 6/104).


[2] Keterangan Ibnu Katsir, Artinya mereka tidak mengalami kepanasan yang terik dan dingin yang berat. Namun tergabung menjadi satu, terus seperti itu selamanya. (Tafsir Ibnu Katsir, 8/290).


Makna zamharir, dipahami banyak ulama tafsir dengan cuaca sangat dingin. Diantara dalil yang mendukung makna ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,


قَالَتِ النَّارُ رَبِّ أَكَلَ بَعْضِى بَعْضًا فَأْذَنْ لِى أَتَنَفَّسْ. فَأَذِنَ لَهَا بِنَفَسَيْنِ نَفَسٍ فِى الشِّتَاءِ وَنَفَسٍ فِى الصَّيْفِ فَمَا وَجَدْتُمْ مِنْ بَرْدٍ أَوْ زَمْهَرِيرٍ فَمِنْ نَفَسِ جَهَنَّمَ وَمَا وَجَدْتُمْ مِنْ حَرٍّ أَوْ حَرُورٍ فَمِنْ نَفَسِ جَهَنَّمَ


Neraka mengadu, ‘Ya Rabbi, kami antara satu dengan yang lain saling memakan, maka izinkan aku untuk menghembuskan nafasku.’ Lalu Allah izinkan untuk bernafas dua kali. Nafas ketika musim dingin dan nafas ketika musim panas. Cuaca dingin atau zamharir yang kalian jumpai, itu dari nafasnya jahanam. Sementara kondisi panas terik yang kalian jumpai, itu dari nafasnya jahanam. (HR. Muslim 1434).


Dalam hadis di atas ada penyebutan zamharir sebagai kesamaan dari cuaca dingin. Sehingga kita mengimani seperti yang Allah beritakan. Dan ayat di atas dipahami kebanyakan ahli tafsir sebagai kenikmatan surga dalam bentuk mereka tidak kepanasan dan tidak kedinginan. Apakah di surga ada matahari dan bulan? Allahu a’lam kami tidak tahu pernyataan yang menegaskan itu.


Allahu a'lam


Referensi :
- QS. al-Insan: 13
- Tafsir Zadul Masir, Ibnul Jauzi, 6/104
- Tafsir Ibnu Katsir, 8/290
- HR. Muslim 1434


Hukum Wanita Memakai Celana Panjang

 

Allah membedakan antara lelaki dan wanita. Allah menegaskan,


وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَى


“Lelaki itu tidak seperti wanita.” (QS. Ali Imran: 36)


Apa yang dinyatakan oleh Allah, itu yang sesuai keadilan dan sejalan dengan kodrat manusia. Karena itu, menyamakan antara lelaki dan wanita adalah kedzaliman dan menyimpang dari fitrah. Diantara perbedaan itu adalah perbedaan dalam berpakaian. Pakaian lelaki berbeda dengan pakaian wanita. Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat lelaki yang memakai pakaian wanita dan sebaliknya.


Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu mengatakan,


أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَعَنَ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لُبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لُبْسَةَ الرَّجُلِ


“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang berpakaian wanita dan wanita yang berpakaian laki-laki.” (HR. Ahmad 8309 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).


Disamping itu, pakaian wanita sama sekali tidak boleh menampakkan lekuk tubuh. Tak terkecuali bagian kaki. Sehingga harus ditutupi dengan rok atau semacamnya.


Sahabat Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘anhuma bercerita, “Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pernah memberiku baju Quthbiyyah yang tebal. Baju tersebut dulu dihadiahkan oleh Dihyah Al Kalbi kepada beliau. Lalu aku berikan baju itu kepada istriku. Suatu ketika Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menanyakanku, ‘Kenapa baju Quthbiyyah-nya tidak engkau pakai?’. Kujawab, ‘Baju tersebut aku berikan kepada istriku, wahai Rasulullah’. Beliau berkata, ‘Suruh dia memakai baju rangkap di dalamnya karena aku khawatir Quthbiyyah itu menggambarkan lekuk tubuhnya’.” (HR. Ahmad 21786 dinyatakan Syuaib al-Arnauth – bisa dinilai hasan).


Qubthiyah istilah untuk menyebut produk asal qibthi, penduduk mesir. Dalam hadis di atas, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membiarkan Usamah bin Zaid ketika dia memberikan kain itu ke istrinya. Karena beliau memahami, kain itu jika dipakai wanita, bisa menampakkan lekuk tubuhnya.


Berdasarkan keterangan di atas, para ulama melarang wanita memakai celana tanpa ditutupi kain. Syaikh Dr. Abdullah bin Jibrin pernah ditanya tentang hukum wanita memakai celana.


Jawaban beliau, “Tidak boleh bagi wanita menggunakan pakaian semisal itu di hadapan lelaki yang bukan suaminya. Karena pakaian yang demikian dapat menggambarkan bentuk-bentuk tubuhnya. Dan wanita diperintahkan untuk menutup seluruh tubuhnya, karena dia adalah fitnah (godaan). Dan semua pakaian yang dapat menggambarkan bentuk tubuh wanita tidak boleh dipakai di hadapan para lelaki, atau para wanita, atau para mahram dan yang selain mereka. Kecuali suami, ia boleh melihat istrinya pada seluruh tubuhnya. Maka di hadapan suami boleh menggunakan pakaian yang ketat atau semisalnya. Wallahu a’lam.” (Fatawa Syaikh Ibnu Jibrin, 101/4)


Jika wanita memakai celana namun tidak ditutupi dengan pakaian luaran, tidak diperbolehkan. Tapi jika memakai celana panjang hanya untuk daleman dan akan ditutupi pakaian yang lain, tidak ada masalah.


Allahu a’lam.


Referensi :
- QS. Ali Imran: 36
- HR. Ahmad 8309
- HR. Ahmad 21786
- Fatawa Syaikh Ibnu Jibrin, 101/4


Hukum Bitcoin dalam Islam

 

Para penambang (miners) bitcoin bisa mendapatkan bitcoin melalui olah script untuk memecahkan algoritma tertentu. Untuk mendapatkan coin, para miners harus melakukan running script (olah data) untuk verifikasi data transaksi yang tersimpan dalam sebuah blok yang mereka sebut dengan blockchain. Siapa yang berhasil, akan mendapatkan bitcoin. Saat ini, dalam 10 menit ada 12,5 bitcoin tercipta. Dan angka ini bisa mengalami perubahan. Bitcoin bisa dinyatakan sebagai properti digital yang dianggap bernilai oleh komunitasnya. Dan ukuran nilainya sangat bergantung kepada tren yang berlaku di komunitasnya.


Ada beberapa alasan yang mendasari ini,


[1] Bitcoin tidak disepakati semua masyarakat. Banyak negara menolak penggunaan bitcoin. Mereka mengakui keberadaaan bitcoin, tapi mereka menolak penggunaannya. Jika anda ekspor barang ke eropa, bisa jadi anda tidak akan bersedia ketika anda dibayar menggunakan bitcoin, ketika anda tidak menganggap bahwa itu sesuatu yang berharga.


[2] Bitcoin termasuk Cryptocurrency, yang tidak memiliki nilai intrinsik. Dia berkembang mengikuti tren. Bahkan memungkinkan bagi siapapun untuk membuat sendiri mata uang yang lain dengan script yang berbeda.


Saat ini ada banyak Cryptocurrency yang dikembangkan, seperti:

1) Litecoin (LTC) Litecoin, dilaunching tahun 2011,

2) Ethereum (ETH)

3) Zcash (ZEC)

4) Dash.

5) Ripple (XRP)

6) Monero (XMR)

Dan tren bisa berpindah, dari satu Cryptocurrency ke Cryptocurrency yang lain.


[3] Bitcoin sangat labil, sehingga tidak memiliki nilai ketahanan sama sekali. Dan ini sangat bertentangan dengan karakter mata uang, yang dia dia digunakan untuk acuan harga. Karena bitcoin sangat tergantung kepada tren di komunitasnya. Info dari salah satu situs business insider Singapura, pada tahun 2010, ada seseorang yang membeli 2 pizza dengan membayar 10 ribu bitcoin. Sedangkan awal 2017, bitcoin di angka 7 juta-an.


[4] Bitcoin sangat rentan untuk hilang nilai. Dan sekali lagi, ini masalah tren. Dulu ada bitconnect coin (BCC), januari ini ditutup, akhirnya banyak investor yang jatuh bangkrut. Padahal dulu harga BCC bisa mencapai $ 400, lalu nyungsep hingga tinggal $ 0,00…, menjadi sesuatu yang sangat tidak berharga dan sekarang tutup. Bitcoin bisa saja mengalami kondisi yang sama ketika pasarnya hancur.


Dalil Larangan Bitcoin


Setidaknya transaksi bitcoin masuk dalam larangan jual beli gharar seperti yang ditegaskan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,


أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ


Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli gharar. (HR. Muslim 3881, Abu Daud 3378 dan yang lainnya).


Dan inti dari gharar adalah adanya jahalah (ketidak jelasan) yang menyebabkan adanya mukhatharah (spekulasi, untung-untungan), baik pada barang maupun harga barang. Contoh bentuk gharar lainnya yang dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah jual beli ijon. Jual beli buah yang ada di pohon sebelum layak untuk dipanen.


Ketika akad ini dilakukan, di sana ada dua kemungkinan yang akan dihadapi oleh penjual dan pembeli. Jika buahnya banyak yang utuh, bisa dipanen, maka pembeli untung dan penjual merasa dirugikan karena harga jualnya murah. Sebaliknya ketika buahnya banyak yang rusak, pembeli dirugikan dan penjual untung besar. Karena andai buah ini tidak segera dia jual, dia akan mengalami gagal panen.


Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,


أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – نَهَى عَنْ بَيْعِ الثِّمَارِ حَتَّى تُزْهِىَ . فَقِيلَ لَهُ وَمَا تُزْهِى قَالَ حَتَّى تَحْمَرَّ


Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menjual buah sampai layak untuk dipanen. Beliau ditannya, ‘Apa tanda kelayakan dipanen?’ jawab beliau, “Sampai memerah.” Lalu beliau bersabda,


أَرَأَيْتَ إِذَا مَنَعَ اللَّهُ الثَّمَرَةَ ، بِمَ يَأْخُذُ أَحَدُكُمْ مَالَ أَخِيهِ


“Bagaimana menurut kalian, jika Allah mentaqdirkan buahnya tidak bisa diambil? Bagaimana bisa penjual mengambil harta temannya?” (HR. Bukhari 2198 & Ibnu Hibban 4990).


Jual beli ijon dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena ghararnya besar. Meskipun penjual dan pembeli melakukannya atas dasar saling ridha. Namun keberadaan ridha tidak cukup. Karena yang menjadi masalah bukan di adanya pemaksaan terhadap pelaku akad, tapi di objek transaksi yang tidak jelas.


Jika keberhasilan transaksi ijon bergantung kepada takdir tatkala panen, keberhasilan investasi bitcoin sangat bergantung kepada takdir tren yang berlaku di komunitasnya. Selama mereka masih suka, harga bitcoin masih bisa dipertahankan. Ketika mereka bosan, seketika akan hilang.


Semoga Allah menjauhkan hidup kita dari godaan harta di dunia data.


Allahu a’lam


Referensi :
- HR. Muslim 3881
- HR. Bukhari 2198
- HR. Ibnu Hibban 4990


Hukum Memberi Hadiah Al-Qur’an Untuk Orang Kafir

 

Terdapat hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,


نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُسَافَرَ بِالْقُرْآنِ إِلَى أَرْضِ الْعَدُوِّ


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang melakukan safar dengan membawa al-Quran ke negeri musuh. (HR. Bukhari 2990 & Muslim 4946)


Dalam riwayat lain terdapat tambahan,


فَإِنِّي لَا آمَنُ أَنْ يَنَالَهُ الْعَدُوُّ


“Karena saya tidak merasa aman ketika dipegang oleh musuh.”


Hadis ini merupakan dalil bahwa kaum muslimin dilarang untuk memberikan hadiah mushaf al-Quran kepada orang kafir karena ditakutkan akan dihinakan.


Apakah larangan ini bersifat mutlak? Ulama berbeda pendapat dalam hal ini,


[1] Larangan ini bersifat mutlak, sehingga kita dilarang memberikan mushaf al-Quran kepada orang kafir apapun alasannya. Ini merupakan pendapat Imam Malik dan beberapa ulama syafi’iyah.


[2] Larangan ini karena alasan keselamatan mushaf, dikhawatirkan dihinakan orang kafir. Sehingga jika bisa dipastikan tidak akan dihinakan orang kafir, dibolehkan. Ini merupakan pendapat Abu Hanifah, al-Bukhari dan an-Nawawi.


[3] Larangan ini sifatnya makruh dan tidak haram. Ini merupakan pendapat Abu Hanifah menurut riwayat Ibnul Mundzir.


Perbedaan pendapat ini dijelaskan an-Nawawi, "Larangan untuk melakukan safar ke negeri kafir dengan membawa mushaf, karena alasan seperti yang disebutkan dalam hadis, yaitu kekhawatiran akan dipegang orang kafir, lalu dihinakan kehormatannya. Jika dirasa aman dari keadaan ini, misalnya al-Quran dibawa bersama pasukan kaum muslimin yang mampu mengalahkan mereka, maka ketika itu tidak dilarang. Karena alasan dihinakan tidak ada. Iniah pendapat yang benar. Ini pendapat Abu Hanifah, al-Bukhari, dan beberapa ulama lainnya. Sementara Imam Malik dan sekelompok ulama madzhab kami (Syafi’iyah) mengatakan bahwa itu dilarang mutlak. Dan menurut nukilan Ibnul Mundzir dari Abu Hanifah, itu boleh secara mutlak. (Syarh Sahih Muslim, 13/13)


Lalu bagaimana dengan surat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para raja kafir, yang di sana ada ayat al-Quran?


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menngirim surat ke beberapa raja kafir, dengan menyebutkan ayat,


“Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.(QS. Ali Imran: 64)


Jawabannya adalah surat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam isinya dominan bukan al-Quran, tapi ajakan beliau kepada para raja kafir untuk masuk islam. Meskipun di dalamnya ada cuplikan ayat al-Quran. Para ulama memahami bahwa kitab tafsir tidak disebut mushaf al-Quran, karena di dalamnya dominan keterangan yang bukan al-Quran. Sehingga wanita haid boleh menyentuhnya.


Sementara dalam hadis ini yang dilarang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah membawa mushaf al-Quran.


Al-Qasthalani mengatakan, "Yang dimaksud dalam larangan ini adalah membawa mushaf al-Quran utuh atau tulisan yang semua isinya al-Quran. Sementara surat yang ditulis untuk heraklius, ayat al-Quran hanya bagian dari isi surat yang lain, yang bukan al-Quran. (Irsyadus Sari)


Karena itulah, sebagian ulama memfatwakan agar orang kafir cukup dikasih terjemah mushaf al-Quran.


Imam Ibnu Baz mengatakan, “Orang kafir tidak boleh diberi mushaf Alquran, karena khawatir akan menghinakan atau menyia-nyiakannya. Yang perlu dilakukan adalah mengajarkan dan membacakan padanya, mengarahkan dan mendoakannya. Jika ia mau memeluk Islam, boleh diberikan mushaf. Namun demikian, boleh diberikan kepadanya kitab-kitab tafsir atau kitab-kitab hadis jika diharapkan bisa bermanfaat, dan boleh juga mushaf terjemahan. (Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, Syaikh Ibnu baz,6/372-373)


Allahu a’lam


Referensi :
- HR. Bukhari 2990 & Muslim 4946
- Syarh Sahih Muslim, 13/13
- QS. Ali Imran: 64
- Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, Syaikh Ibnu baz,6/372-373